Angin Segar Alutsista dari Rusia

Presiden Joko Widodo dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kota Sochi, 18 Mei 2016.
Sumber :
  • REUTERS/Sergei Karpukhin

Pengamat intelijen dan militer Susaningtyas NH Kertopati mengatakan, adalah hal yang wajar jika Indonesia membeli senjata dari Rusia. “Kerja sama Indonesia dan Rusia sudah terjalin lebih dari tiga dasa warsa.  Sebenarnya kerja sama ini akan lebih baik jika terjalin secara resiprokal, yaitu RI bukan hanya dianggap pasar, tapi juga produsen,” ujarnya melalui pesan singkat kepada Viva.co.id, Kamis, 19 Mei 2016.  Nuning, sapaan Susaningtyas mengatakan, belakangan ini Indonesia memang lebih banyak menggunakan alutsista Rusia. “Alutsista buatan Rusia lebih sesuai dengan geografi Indonesia, dan mekanisme pembeliannya lebih mudah,” katanya menjelaskan.

img_title Lapor Prabowo, Panglima TNI Sebut Sudah Terjunkan 35.477 Personel Tangani Bencana Sumatera

Menurut analis militer Rusia, Konstantin Sivkov, Indonesia telah menyatakan minatnya untuk membeli jet tempur teranyar dari pesaing Barat itu. "Selama 'uji coba' di Suriah, senjata Rusia membuktikan efektivitas dan keandalannya. Dan, ini menarik minat besar dari pelanggan potensial yang belum memiliki persenjataan Rusia sebelumnya," ungkap Sivkov, seperti dikutip dari situs Sputniknews, 17 Mei 2016.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sivkov lalu memberi contoh Su-35 yang bertugas memberikan perlindungan dalam sebuah serangan. Menurut dia, alutsista Rusia tidak mengenal prinsip teknologi canggih dengan biaya yang tinggi. Persenjataan Rusia dikenal memiliki teknologi canggih dan berbiaya lebih rendah ketimbang AS.

img_title TNI Salurkan Bantuan Logistik ke Sumatera, Totalnya 2.190 Ton

Sejak 2003, Rusia dan Indonesia sudah terlibat intens dalam soal pengadaan alutsista. Menurut Viktor Komardin dari perusahaan ekspor senjata-senjata Rusia, Roso Boron Export, Moskow menjual perangkat sistem SAM sekaligus membantu mempersiapkan jaringan pertahanan udara. Saat itu, Indonesia hanya memiliki rudal-rudal pertahanan SAM (surface-to-air missile) jarak dekat. Selain itu, Indonesia juga memesan 16 unit jet tempur Sukhoi, sejumlah helikopter militer Mi-35, dan Mi-17 .  Alutsista lain yang dijual Rusia ke Indonesia adalah kendaraan tempur lapis baja BMP-3F, kendaraan pengangkut personel BTR-80A, serta senapan serbu AK-102.

Untuk membeli persenjataan itu, Moskow pada 2007 memberi fasilitas kredit sebesar US$1 miliar. Selain memberikan fasilitas kredit, Rusia juga menggelar latihan bersama antara pasukan Indonesia dengan Rusia pada tahun 2011.  

img_title Prabowo Bakal Datangkan 200 Helikopter Mulai Awal 2026

Hubungan perdagangan senjata antara Indonesia dan Rusia juga bukan hal baru. Sejak tahun 1950-an, masa dimana Rusia masih bernama Republik Uni Soviet (USSR), perdagangan senjata sudah terjadi antara Indonesia dan Rusia, tak lama setelah kedua negara sepakat membuka hubungan diplomatik. Namun hubungan ini mengalami pasang surut. Tahun 1960-an, masa pergolakan politik di Indonesia berpengaruh besar pada kerja sama Indonesia dan Uni Soviet. Indonesia merenggangkan hubungan dengan negara komunis tersebut dan mulai melirik AS.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut