Intelijen Pertahanan, Pentingkah?
- ANTARA/R. Rekotomo
VIVA.co.id – "Kementerian Pertahanan yang aneh di dunia ini cuma satu. Siapa? Indonesia, saya bilang." Begitu pernyataan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu awal pekan lalu.
Menhan RI ini ingin memastikan bahwa lantaran tidak ada intelijen di kementeriannya, Indonesia seperti negara aneh dan berbeda dengan negara lain yang ada di dunia.
"Bagaimana memberikan laporan kepada Bapak Presiden kalau intelijen tak ada. Untung saya ini bekas intelijen juga, jadi mengerti begitu," katanya lagi.
Baru-baru ini, Kementerian Pertahanan memang sedang mengencangkan rencana soal pembentukan badan rahasia di lembaga mereka. Gagasan ini berkaitan erat dengan perubahan setelah era reformasi.
Di mana Kementerian Pertahanan dengan TNI yang dulunya satu kesatuan di bawah Menhankam/Panglima ABRI, kini sudah terpisah. "Dulu satu intelijen di bawah kementerian. Sekarang intelijennya melekat ke TNI. Karena itu kini Kementerian Pertahanan tak ada lagi intelijen," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Brigjen Junjan Eko Bintoro.
Apa Pentingnya?
Dalam konsepnya, ide badan rahasia atau intelijen milik Kementerian Pertahanan nantinya, digagas tanpa harus mengambil alih fungsi badan intelijen yang ada seperti Bais (Badan Intelijen Strategis) di TNI, Baintelkam Polri (Badan Intelijen Keamanan), intelijen kejaksaan dan lainnya.
Kepala Badan Instalasi Strategis Nasional (Bainstranas) Mayjen Paryanto menjelaskan, ide pembentukan intelijen pertahanan ini hanya bekerja dalam kerangka analisis. Jadi tidak ada operasi layaknya militer seperti yang dimiliki oleh intelijen militer. "Kita intelijen analis yang bekerja sesuai kebutuhan Kemenhan, tidak operasi," kata Paryanto.
![]()
FOTO: Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu
Sebab itu, kata Paryanto, karena hanya bersifat analisis, maka proses perekrutan intelijen pertahanan hanya menyasar pada intelijen yang sudah terbentuk. Dengan begitu, diyakini bahwa lembaga baru ini tidak menjadi beban dalam anggaran pemerintah pusat.
Atas itu, Kementerian Pertahanan pun percaya diri untuk tetap menjadikan intelijen keamanan untuk ada di bawah lembaga mereka. Apalagi, seperti yang disampaikan Ryamizard. Bahwa kebutuhan intelijen itu kini sudah mendesak untuk Indonesia.
Tak tanggung, Ryamizard bahkan menganalogikan dengan ancaman kedaulatan negara menjadi taruhannya ketika intelijen keamanan ini tidak ada. "Tiap negara itu punya intelijen. Intelijen luar negeri, dalam negeri, dan kementerian pertahanan. Aneh bin ajaib, selama berapa puluh tahun ini kementerian pertahanan kita tidak ada intelijen," kata Ryamizard.