Tatkala Rasa Aman Menjadi Mahal di Prancis
- REUTERS/David Gray
Ia juga memprediksi akan terjadi satu atau dua serangan lagi ke depan. Meski Calvar tidak eksplisit menjelaskan bentuk dan lokasi serangan tersebut.
Kendati demikian, Calvar menjelaskan, yang melatarbelakangi suburnya aksi teror akibat warga Prancis yang berasal dari imigran, mayoritas Afrika Utara, yang puluhan tahun menjadi warga negara Prancis justru tidak merasa menjadi bagian dari itu.
Akibatnya, mereka menjadi kelompok minoritas yang terisolasi. Belum lagi, adanya tekanan dari kelompok ultranasionalis yang menyerukan untuk mengusir para imigran dan warga Prancis nonkulit putih.
Hal ini, Calvar melanjutkan, menjadi bibit kemarahan terpendam sekaligus menjadi ladang subur perekrutan anggota kelompok radikal.
“Tak ada asap kalau tak ada api. Siapa yang memantik maka api akan menyebar dengan cepat. Laporan yang saya terima bahwa mereka (kelompok ultranasionalis) telah mengumpulkan senjata untuk mempersiapkan diri menyerang tempat ibadah seperti masjid dan sinagog,” papar Calvar.
Ia pun mengakui aparat keamanan Eropa, khususnya Prancis, memiliki kelemahan. Celakanya, kata Calvar, hal tersebut diketahui pula oleh mereka untuk membuat kekacauan besar. (ren)