Tatkala Rasa Aman Menjadi Mahal di Prancis

Komunitas warga Prancis di Sydney, Australia, menangis atas tragedi truk maut di Nice, Prancis, Jumat, 15 Juli 2016.
Sumber :
  • REUTERS/David Gray

Ia juga memprediksi akan terjadi satu atau dua serangan lagi ke depan. Meski Calvar tidak eksplisit menjelaskan bentuk dan lokasi serangan tersebut.

img_title Apa Itu Virus Shamonda yang Bikin Geger Prancis? Pasien Pertama yang Terinfeksi Meninggal Dunia

Kendati demikian, Calvar menjelaskan, yang melatarbelakangi suburnya aksi teror akibat warga Prancis yang berasal dari imigran, mayoritas Afrika Utara, yang puluhan tahun menjadi warga negara Prancis justru tidak merasa menjadi bagian dari itu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Akibatnya, mereka menjadi kelompok minoritas yang terisolasi. Belum lagi, adanya tekanan dari kelompok ultranasionalis yang menyerukan untuk mengusir para imigran dan warga Prancis nonkulit putih.

img_title 1.000 Orang Ditahan Imbas Unjuk Rasa di Prancis!

Hal ini, Calvar melanjutkan, menjadi bibit kemarahan terpendam sekaligus menjadi ladang subur perekrutan anggota kelompok radikal.

“Tak ada asap kalau tak ada api. Siapa yang memantik maka api akan menyebar dengan cepat. Laporan yang saya terima bahwa mereka (kelompok ultranasionalis) telah mengumpulkan senjata untuk mempersiapkan diri menyerang tempat ibadah seperti masjid dan sinagog,” papar Calvar.

img_title Prancis Kerahkan 70.000 Polisi Jelang Demo Besar Gelombang Kedua, Museum Ditutup

Ia pun mengakui aparat keamanan Eropa, khususnya Prancis, memiliki kelemahan. Celakanya, kata Calvar, hal tersebut diketahui pula oleh mereka untuk membuat kekacauan besar. (ren)

demonstrasi di Prancis

Prancis Minta Media Sosial TikTok hingga Instagram Diblokir Cegah Kerusuhan Lanjutan

Pemerintah Prancis dilaporkan telah meminta operator telekomunikasi untuk bersiap menangguhkan akses ke platform media sosial jika terjadi potensi kekerasan lanjutan.

img_title
VIVA.co.id
25 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut