Tatkala Rasa Aman Menjadi Mahal di Prancis

Komunitas warga Prancis di Sydney, Australia, menangis atas tragedi truk maut di Nice, Prancis, Jumat, 15 Juli 2016.
Sumber :
  • REUTERS/David Gray

Adakah alasan khusus mengapa Prancis menjadi langganan serangan teroris?

img_title Prancis Tangkap Pria Terkait Kebakaran Balai Kota Bersejarah, Polisi Antiteror Turun Tangan

Kepala Eksekutif Intelligent Risks Group, Neil Fergus, Seperti dilansir news.com.au, Jumat, 15 Juli 2016, mengatakan, alasan Prancis menjadi target utama karena negara itu melambangkan “mercusuar kebebasan”.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurutnya, nilai-nilai kebebasan, persaudaraan, dan persamaan dalam kemanusian adalah nilai-nilai Eropa yang ditentang oleh kelompok militan seperti ISIS, di mana mereka mengharamkan nilai dan peradaban yang dianut Barat.

img_title Demo Ricuh di Prancis, Koki Divonis 8 Bulan Penjara-Petugas Keamanan Satu Tahun

“Egalite (persamaan), Fraternite (persaudaraan), dan Liberte (kebebasan). Prancis adalah jantung filosofi kesucian Barat atau episentrum. Inilah yang dijadikan alasan bagi kelompok-kelompok mainstream untuk melakukan kekejian,” kata Fergus, mempertegas.

Alasan lain mengapa Prancis menjadi sasaran adalah karena sikap Presiden Francois Hollande, yang pada pekan lalu mengumumkan telah mengirimkan Kapal Induk Charles de Gaulle ke Timur Tengah untuk membantu koalisi internasional memerangi ISIS di Irak dan Suriah.

img_title Prancis Mencekam, Bagaimana Nasib Pebulutangkis Indonesia di French Open 2026

Menanggapi hal itu, Fergus berpendapat, ISIS saat ini ingin mematahkan kehendak pemerintah Prancis dengan terus melakukan teror secara acak.

"Secara kekuatan fisik ISIS tidak lagi memiliki kemampuan untuk memanfaatkan pasukan dalam mengalahkan sekutu yang didukung Barat. Tapi, mereka menjadi terpecah-pecah, dan ini lebih berbahaya,” tuturnya.

Apalagi, Fergus melanjutkan, instruksi dari pimpinan mereka sudah jelas. Yaitu menyerang “musuh-musuh” mereka. “Salah satunya Prancis,” tambah Fergus. Dan benar saja. Prancis seperti dibuat frustasi dan shock atas kerentanan serangan teroris dan radikalisasi dalam negeri.

Serangan ini seperti menandai kalau Prancis dan Eropa rawan keamanan. Bahkan, Fergus menilai, rasa aman menjadi “barang” mahal. Para teroris seperti hafal melihat celah yang tak disadari pemerintahan Hollande, dan itu berhasil dimanfaatkan dengan baik.

Di ambang Perang Saudara

Bahkan, tiga hari sebelum serangan truk maut ini, Kepala Direktorat Umum Keamanan Dalam Negeri Prancis (General Directorate for Internal Security / DGSI), Patrick Calvar, telah mengingatkan bahwa Prancis tengah berada di pusaran Perang Saudara.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebab, tumbuh ketegangan antara kelompok ekstrem kanan Prancis (ultranasionalis) dengan dunia Muslim (imigran Timur Tengah dan Afrika Utara).

"Saya pikir kami akan menang melawan terorisme. Tapi, konfrontasi antara ekstrim kanan dan dunia Muslim menyebabkan Prancis berada di ambang perang saudara,” kata Calvar, seperti dikutip situs Dailymail, Jumat, 15 Juli 2016.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut