Mendampingi Buah Hati di Hari Pertama Sekolah
- VIVA.co.id/Anhar Rizki Affandi
Guru juga harus bertanya mengenai karakter dan potensi anak, berdiskusi dengan wali kelas anak sebelumnya, mengajak orangtua berkolaborasi menciptakan kegiatan penunjang pembelajaran, seperti hari pengenalan profesi orangtua dan membangun komunikasi rutin dengan orangtua.
Kepala sekolah sendiri diminta untuk menjadi orang pertama yang menyambut siswa dan orangtua. Mereka diimbau untuk berkenalan dan berinteraksi dengan orangtua siswa, menjelaskan target dan terobosan sekolah satu tahun kedepan, menjelaskan capaian sekolah setahun kebelakang, membangun wadah partisipasi orangtua, serta berkolaborasi membuat kegiatan rutin penunjang pembelajaran.
Sementara masyarakat diimbau agar membantu persiapan teknis kegiatan hari pertama di sekolah, memberikan pengenalan lingkungan di sekitar sekolah untuk siswa dan orangtua, serta terlibat dalam kegiatan-kegiatan di sekolah, mulai dari camping hingga lomba 17 Agustus.
"Para pelaku pendidikan di sekolah bisa saling berinteraksi untuk mewujudkan tujuan bersama. Mendidik anak-anak kita, bersama melukis wajah masa depan negeri ini," demikian tertulis di pamflet.
Pentingnya mengantar anak di hari pertama sekolah
"Hari pertama adalah awal perjalanan panjang anak-anak kita di rumah keduanya."
Sekolah adalah rumah kedua anak. Ya, sadarkah Anda bahwa para buah hati menghabiskan sebagian waktunya di sekolah? Mereka mengisi 1/3 harinya dengan berkegiatan di sekolah. Selama beberapa tahun, 5-6 hari dalam seminggu mereka belajar di sekolah.
Mengantar anak ke sekolah adalah kesempatan untuk membangun hubungan positif antara lingkungan pendidikan di rumah dan sekolah. Seperti yang telah diimbau Mendikbud, mengantar bukan sekadar sampai gerbang lantas pergi, melainkan menemani dan membangun beragam interaksi.
Menghadapi hari pertama yang penting bagi anak-anak, psikolog dan Ketua Perlindungan Anak Indonesia Seto Mulyadi pun mendorong orangtua agar menyempatkan waktu mengantar anak ke sekolah. Paling tidak salah satunya, baik ibu atau ayah. Tergantung mana yang sempat.
Menurut Seto, ini juga menjadi momentum tepat bagi orangtua membangun komunikasi awal dengan para guru.
"Harus ada kesempatan untuk berdiskusi dengan orangtua lain, berbicara dengan para guru, membangun komunikasi awal sehingga berikutnya pendidikan ada kerjasama antara guru dan orangtua," ujar pria yang akrab disapa Kak Seto itu saat ditemui beberapa waktu lalu.