Ketika Anomali Cuaca Terjadi Lagi
- Antara/ Adnan
Kukuh mengatakan, area Samudera Hindia sebelah barat ini lebih hangat, indeksnya negatif. Artinya, kata Kukuh, ada pasokan air dari Samudera Hindia sebelah barat menuju ke timur Indonesia bagian barat.
"Pasokan air dari Samudera Hindia itu memang benar (terjadi). Kalau La Nina lemah, ya belum ada bukti," jelas Kukuh dalam sambungan telepon kepada VIVA.co.id.
Kukuh mengatakan, penyebab ketiga, yaitu muson timur, atau muson Australia yang membawa uap kering. Muson merupakan angin musiman yang bersifat periodik dan biasanya terjadi, terutama di Samudera Hindia dan sebelah selatan Asia. Tapi periode ini, kata Kukuh, dalam kondisi lemah, sehingga tidak menjadikan wilayah Indonesia kering.
Selain tiga kemungkinan penyebab anomali tersebut, Kukuh mengatakan, ada hal penting lain yang perlu dipertimbangkan, yaitu suhu muka laut wilayah Indonesia yang selalu hangat. Kondisi yang hangat itu, karenanya proses penguapan mudah terjadi dan akhirnya awan-awan hujan mudah terbentuk.
"Anomali suhu bisa antara 1-2 derajat dari kondisi normal. Itu sebabkan banyak hujan," kata dia.
Kukuh mengatakan kondisi anomali musim sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Dalam catatan BMKG, tiga tahun terakhir telah terjadi anomali. Pada 2015, terjadi anomali curah hujan yang menurun, dampaknya terjadi kemarau panjang dan munculnya kasus kebakaran hutan di berbagai wilayah. Tahun lalu, kata Kukuh, anomali terjadi karena munculnya El Nino.
Sementara itu, pada tahun ini, BMKG memperkirakan sebaliknya, akan banyak hujan, atau La Nina.
Kukuh mengatakan, kondisi anomali yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini mirip dengan kondisi pada 1997-1998. Salah satu kemiripannya, yakni adanya daerah yang tidak memiliki kemarau, meski areanya tak relatif luas.
Wilayah itu disebut sebagai area putih, wilayah yang susah diprediksi cuacanya. Misalnya Bogor, pantai barat di Pulau Sumatera, di area tersebut setiap tahun kondisinya hujan.
"Itu wilayah yang musim zonanya banyak alami anomali. Itu terkait kondisi geografis ya," jelasnya.
Selanjutnya, dampak nyata perubahan iklim...
Dampak nyata perubahan iklim
BMKG memperkirakan, awal musim hujan di Indonesia akan masuk mulai Agustus, namun hal itu masih dievaluasi dan dipelajari lebih dalam.