Mengakali Aturan Ganjil Genap dengan Aplikasi
- VIVA.co.id / Bayu Januar
Kebijakan ganjil genap ini sendiri bukanlah aturan yang dibuat tanpa pikir panjang. Ini merupakan salah satu solusi untuk bisa mengurai kemacetan di ibu kota. Bahkan sebelum mengimplementasikan kebijakan ini, pengembang aplikasi Qlue, yang memang telah berintegrasi dengan pemerintah daerah (pemda) DKI Jakarta, membuat survei kecil-kecilan, melibatkan 4548 responden.
Dalam survei tersebut, pihak Qlue mempertanyakan ‘Solusi Kemacetan Jakarta Apa yang Paling Efektif?’. Nah, berdasarkan data yang dipaparkan Qlue, dari ribuan komentar yang masuk di forum dan topik diskusi tersebut, sebanyak 12 persen responden menganggap jika aturan ganjil genap cukup efektif. Tentu saja solusi ini masih kalah dengan rencana pembangunan MRT/LRT di Jakarta, yang disukai oleh sekitar 39 persen responden.
“Sejauh uji coba berlangsung, belum ada keluhan yang masuk ke Qlue. Kami sendiri punya solusi bagi masyarakat untuk melaporkan pelanggaran terkait kemaceta yang disebabkan oleh kendaraan yang melanggar. Dengan aplikasi Qlue, jika ada yang melihat kendaraan yang melanggar, penngguna bisa langsung memfoto kendaraan tersebut dan di-upload ke Qlue sehingga petugas akan langsung terima laporan dan bisa segera melakukan tindak lanjut,” ujar Elita Yunanda, Marketinng Communication Manager Qlue, kepada Viva.co.id, Rabu, 3 Agustus 2016.
Tidak hanya itu. Elita juga membocorkan jika Qlue saat ini tidak hanya terintegrasi dengan dinas perhubungan. Dalam waku dekat, aplikasi lokal itu akan terintegrasi dengan Korlantas/TMC Polda Metro Jaya. Ini artinya, pihak kepolisian bisa dengan cepat menindaklanjuti laporan warga terkait kemacetan dan kebijakan ganjil genap.
“Harapannya agar dapat mengurangi kemacetan di kawasan-kawasan yang diterapkan kebijakan ini,” kata Elita.
Teknologi Menyiasati Ganjil Genap
Bagi pengendara, sepertinya kebijakan ini cukup berdampak baik. Seorang pekerja yang berkantor di Dharmawangsa dan bertempat tinggal di Jakarta Timur mengaku sudah terbebas dari macet di jalanan protokol itu saat akan pulang dan pergi bekerja. Rizal mengaku hanya membutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk pulang ke rumah, dari Kebayoran sampai ke rumahnya di sekitaran Cawang. Padahal sebelum kebijakan diberlakukan, dia mengaku membutuhkan waktu hampir dua jam untuk sampai ke sana.