Kepada Jokowi, Duterte Minta Maaf Soal Abu Sayyaf
- Reuters/Darren Whiteside
Sejak awal memimpin Filipina dua bulan lalu, Duterte sudah mengatakan, ia tak akan memberi ampun pada pengedar dan pengguna narkoba. Terbukti, hanya dua bulan menjabat, sudah nyaris 3.000 pengedar dan pengguna narkoba meregang nyawa di jalan-jalan umum di Filipina. Itu sebabnya, jika jadi, pertemuan Duterte dengan Mary Jane menjadi pertemuan yang paling ditunggu-tunggu, termasuk jika ia membicarakan Mary Jane dengan Jokowi.
Namun, ternyata dua pemimpin negara tak membahas soal Mary Jane. Saat dikonfirmasi, Yasonna H. Laoly Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia memastikan Duterte dan Jokowi tak menyebut nama Mary Jane dalam pembicaraan mereka. "Bilateral tak menyebut soal itu. Totally nothing. Dan tak ada request apa-apa," ujarnya kepada VIVA.co.id, Jumat, 9 September 2016.
Bicara Abu Sayyaf
Meski tak membicarakan Mary Jane, namun kedua presiden ternyata membicarakan hal lain yang juga penting. Kepala Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden RI Bey Machmudin, mengatakan kedua presiden membicarakan soal kuota haji dan penyanderaan yang dilakukan oleh kelompok militan Abu Sayyaf.
Melalui siaran persnya, ia menyampaikan, Duterte meminta maaf karena sering terjadinya penyanderaan awak kapal Indonesia di perairan Filipina. Apalagi Filipina sangat mengandalkan batubara dari Indonesia yang dikirim melalui kapal-kapal tersebut. "Saya sangat menyesal, Pak Presiden, bahwa kadang-kadang pengiriman batubara yang dibutuhkan oleh pembangkit listrik di negara saya terhambat karena pembajakan," ujar Duterte seperti tertulis dalam rilis yang diterima oleh VIVA.co.id, Jumat, 9 September 2016.
Kedua presiden juga membahas soal terorisme dan ekstremisme. Dan meski tak secara khusus membicarakan Mary Jane, namun pembicaraan soal pemberantasan narkoba juga disertakan. "Kami sepakat untuk bekerjasama untuk mencegah, menangkap, dan mengadili para pelaku teror di lingkungan kita. Kami juga berbagi keresahan yang sama soal penyebaran obat-obatan terlarang, dan dampaknya bagi masyarakat kita," ujar Duterte, menambahkan.
Filipina terkenal dengan kelompok militan Abu Sayyaf yang sering melakukan penculikan dan penyanderaan. Hingga saat ini masih sembilan WNI yang berada dalam penyanderaan kelompok tersebut. Awal September, Duterte terpaksa membatalkan rencana kunjungannya ke Brunei Darussalam. Ia memutuskan tetap tinggal di Davao setelah bom meledak tepat saat ia mengunjungi kota kelahirannya itu. Ledakan itu menewaskan 14 orang dan melukai 71 lainnya. Kelompok Abu Sayyaf mengaku bertanggungjawab atas ledakan tersebut.