Pejabat yang Tak Jera Korupsi

Mantan Ketua DPD RI, Irman Gusman, ditangkap KPK.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma

Kasus yang melibatkan Irman itu, lanjut Donal, menjadi preseden (contoh atau teladan) buruk bagi lembaga tinggi negara. Ia menyayangkan terjadinya kasus suap impor gula yang melibatkan seorang pejabat tinggi lembaga negara seperti yang bersangkutan.

img_title Irman Gusman Lolos jadi Anggota DPD RI dari Sumatera Barat Hasil PSU

Menurutnya, dalam kasus ini sangat tampak ada upaya menjual pengaruh yang diduga dilakukan oleh Irman terhadap para pengusaha.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Masyarakat akan semakin krisis kepercayaan kepada pejabat publik, karena apa yang diucapkan berbeda dengan yang dilakukan," katanya.

img_title KPU Umumkan Irman Gusman Kembali ke Senayan, Eks Ketua MK Minta Hormati Pilihan Masyarakat Sumbar

Sejumlah pertanyaan yang kini mengemuka di publik adalah mengapa kasus korupsi masih menghinggapi pejabat tinggi negara? Mengapa mereka tidak jera meskipun KPK sudah gencar melakukan upaya pemberantasan korupsi termasuk operasi tangkap tangan?

Donal menjelaskan bahwa orang Indonesia cenderung mudah menggunakan pengaruh dan jabatan untuk memperoleh manfaat seperti uang atau harta. Karena mereka paham, memperoleh jabatan di sini adalah perkara yang susah.

img_title KPU Sumbar Resmi Umumkan Hasil PSU DPD RI, Irman Gusman Kembali ke Senayan

"Kalau kita bandingkan dengan negara lain sangat berbeda," kata Donal.

Donal mencontohkan Perdana Menteri Inggris David Cameron yang mundur karena gagal memperjuangkan Inggris agar tetap berada di Uni Eropa. Sementara, hasil referendum menunjukkan mayoritas warga Inggris memilih untuk keluar dari Uni Eropa.

"Karena dia tidak berkeringat memperoleh jabatan, misalnya bayar pemilih, bayar partai. Jangankan kena kasus hukum, gagal memperuangkan sesuatu saja dia mundur," ujar Donal lagi.

Situasi sebaliknya terjadi di Indonesia. Untuk mendapatkan jabatan publik, seseorang harus susah payah, membutuhkan modal politik yang kuat seperti uang.

"Ketika orang memulai jabatan dengan uang, tidak hanya dalam kasus Irman, kasus yang lain juga, maka orang itu cenderung cari uang. Ini lingkaran setan dalam demokrasi kita," lanjut Donal.

Donal menegaskan bahwa masalah perilaku koruptif pejabat negara di negeri ini tidak berdiri sendiri tapi kompleks. Tidak hanya soal penyalahgunaan jabatan melainkan juga sistem demokrasi, sistem pengawasan pejabat publik, masalah etika, dan budaya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Kita cenderung dalam beberaa hal permisif (serba membolehkan, suka mengizinkan) dengan korupsi," kata dia.

Donal kembali memberi contoh. Perilaku yang paling sering terjadi adalah ketika seseorang dibantu, maka ia tidak enak jika tidak memberi uang.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut