Bahaya Sampah Antariksa di Sumenep
- Space
“Kita sebatas identifikasi saja, benda itu dari mana dan milik siapa. Identifikasi itu dikumpulkan di Bandung untuk menjadi referensi bahan pengetahuan bagi kami saja, atau disumbangkan ke Puspitek,” papar Clara.
Untuk melakukan identifikasi, Lapan bekerja sama dengan Bappeten, guna memastikan tidak ada radioaktif yang menyertai objek tersebut. Kalau mengandung radioaktif maka akan diserahkan ke lembaga tersebut. Namun jika aman, benda-benda itu di bawa ke Bandung untuk diidentifikasi lebih lanjut, benar atau tidaknya. Benda antariksa itu diteliti di pusat teknologi roket Lapan.
Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin, mengaku telah memeriksa kedua benda tersebut. Objek yang pertama berasal dari bekas roket Delta 2 PAM-D yang melintas pukul 06.27 WIB dan objek yang kedua merupakan dari bekas roket Falcon 9 kepunyaan SpaceX, yang melintas pada pukul 09.21 WIB.
Ditambahkan astronom amatir, Muh Ma'rufin Sudibyo, objek itu adalah upperstage(tingkat kedua) roket Falcon 9 Full Thrust milik perusahaan inovatif SpaceX yang ditujukan untuk mengorbitkan satelit komunikasi JCSAT-16 (Jepang). Usai menjalankan tugasnya, tingkat kedua Falcon 9 itu menjadi sampah antariksa dengan nomor 41730.
Dia mengatakan, sebenarnya roket bekas bernomor 41730 telah diprediksi akan jatuh kembali ke Bumi pada akhir bulan ini. Sejak selesai menempatkan satelit Jepang itu, roket bekas itu kecepatannya melambat akibat bergesekan dengan atmosfer Bumi. Gesekan tersebut mengakibatkan orbit lonjong roket bekas itu berubah dinamis, yaitu titik terdekat ke paras Bumi (perigee) dan titik terjauh ke paras Bumi (apogee) roket bekas tersebut kian berkurang. Dari analisa dinamika orbit roket bekas tersebut, menunjukkan benda itu mengalami perubahan orbit cukup radikal sepanjang lima hari terakhir sebelum jatuh ke Bumi. Pada 17 Agustus 2016, roket bekas tersebut punya orbit lonjong denganperigee 184 kilometer dan apogee 35.912 kilometer, maka pada 20 September 2016, orbitnya berubah dramatis dari 96 kilometer (perigee) x 6448 kilometer (apogee). Dan lima hari kemudian orbitnya kembali berubah dramatis menjadi 105 kilometer(perigee) x 1145 kilometer (apogee)
“Dinamika orbit tersebut membuat periode orbital roket bekas 41730 menjadi berkurang, dari 163 menit pada 20 September 3026 menjadi 97 menit lima hari kemudian. Dinamika itu, tulis Ma'rufin, menandakan roket bekas Falcon 9 akan segera jatuh ke Bumi. Dengan semua informasi tersebut, hampir dapat dipastikan bahwa peristiwa Sumenep merupakan akibat dari jatuhnya, atau tepatnya, kembali masuknya (re-entry) roket bekas bernomor 41730 yang adalah upperstage Falcon 9 Full Thrust penerbangan 28," kata dia.