Menunggu Keajaiban Sel Punca
- Pixabay
Manfaat lainnya, kata Berry, adalah digunakan sebagai model dalam penelitian dasar mengenai perkembangan hewan dan manusia. Bahkan, bisa juga digunakan untuk bahan tes berbagai obat sebelum diberikan ke manusia, serta personalized medicine.
“Jadi potensinya sangat beragam dan banyak. Namun memang semuanya masih perlu disempurnakan,” katanya.
Terapi Menjanjikan
Penelitian dan terapi sel punca sejatinya telah dilakukan sejak 1996. Masuk ke Indonesia pada 2007. Seperti pengobatan biasa, terapi ini menggunakan media jarum suntik untuk memasukkan sel ke tubuh pasien. Sel tersebutlah yang akan menggantikan atau memperbaiki jaringan yang rusak.
Berdasarkan sumbernya, sel induk yang digunakan dalam terapi sel punca, terdiri atas sel punca embrionik dan dewasa. Embrionik adalah sel yang diambil dari massa sel dalam, atau suatu kumpulan sel yang terletak di satu sisi blastocyst, yang berusia lima hari dan terdiri atas 100 sel. Sementara itu, sel punca dewasa adalah sel induk yang ada di semua organ tubuh, terutama di sumsum tulang belakang, darah tali pusat ataupun fetus.
Salah satu yang dianggap telah berhasil diaplikasi pada manusia adalah kerusakan sel pendengaran yang diderita tuna rungu karena kelainan genetik. Tim ilmuwan Juntendo University, Tokyo, Jepang, yang dipimpin Kazusaku Kamiya, mengklaim mampu memanfaatkan sel punca koklea yang nantinya digunakan untuk menggantikan sel yang rusak pada telinga.
Koklea merupakan bagian telinga yang penting bagi fungsi pendengaran. Bentuknya mirip saluran spiral yang berpola dua per tiga putaran mengitari pusat tulang.
“Kami mengoreksi mutasi gen yang dinamakan Gap Junction Beta 2. Gen ini yang menyebabkan hilangnya pendengaran satu dari 1.000 anak yang lahir,” kata Kamiya.
Manusia lahir memiliki 11.000 sel rambut di masing-masing telinga. Sel ini sangat vital untuk bisa mentransmisikan suara dari telinga ke otak.
Saat usia senja, dia melanjutkan, sel rambut telinga juga ikut rentan. Sebagian manusia mengalami beberapa sel rambut ini mati, baik karena sel tubuh yang semakin tua, daya suara yang berlebihan, sampai konsumsi obat tertentu.
Kamiya berharap dalam lima hingga 10 tahun lagi, bisa ditemukan cara untuk memasukkan sel punca ini ke dalam telinga, sehingga bisa meregenerasi sel yang hilang dan membuat pendengaran kembali normal.