Menunggu Keajaiban Sel Punca
- Pixabay
Selain pendengaran, sel punca juga diklaim bisa mengobati penyakit jantung. Dua relawan pasien penyakit jantung di Inggris mengklaim telah sembuh.
Konsultan dan direktur kardiologis di RS St. Bartholomew, Profesor Anthony Mathur, mengatakan bahwa sel punca yang digunakan pada kedua pasien itu diekstrak dari sumsum tulang masing-masing. Kemudian, sel itu disuntikkan ke dalam area yang rusak di dalam jantung.
Terapi sel punca yang banyak dilakukan di Indonesia adalah untuk diabetes. Hanya dengan menempelkan sel punca ke dalam pankreas yang rusak. Di Singapura, perusahaan biomedik bernama CellResearch Corporation telah mengklaim keberhasilan ini.
Bahkan, penelitian mereka menarik perhatian badan obat dan makanan Amerika (FDA). Menurut CEO CellReseach, perusahaannya saat ini telah bernilai US$700 juta dengan kepemilikan 39 paten di seluruh dunia. Mereka mengklaim telah menyembuhkan 3.000 luka yang tidak bisa disembuhkan, memperbaiki kornea mata, dan memperbaiki penglihatan pada 80 pasien mata.
Di belahan dunia lain, penelitian sel punca untuk penyakit lain masih berlangsung, bahkan masih dicari penyempurnaannya untuk pengobatan jantung koroner, pelemahan pompa jantung, stroke, Parkinson, hingga kanker, dan gangguan tulang.
Kontroversi Sel Punca
Meski menjanjikan, penelitian medis memang tidak pernah lepas dari kontroversi. Kumar dari Frost & Sullivan mengatakan, regulasi yang dulu sempat memasung penelitian ini mulai perlahan kendur. Namun, isu pelanggaran etik dan hukum masih menghantui.
Permasalahan etika yang muncul ke permukaan dikarenakan sumber sel induk adalah berupa embrio dari hasil abortus, zigot sisa, dan hasil pengklonan. Hal ini menimbulkan berbagai pertanyaan, seperti tanggung jawab moral, pelanggaran hak asasi manusia, dan berkurangnya penghormatan pada makhluk hidup.
Isu ini tidak ditampik oleh Berry. Menurut dia, kontroversi lebih pada pemakaian sel punca dari embrio yang dianggap tidak etis. Selain itu, penggunakan sel punca manusia kadang digunakan untuk eksperimen dengan objek lain.
“Penggunaan sel punca embrio dianggap tidak etis. Eksperimen menggunakan sel punca manusia untuk dipakai ke hewan, atau dari hewan ke manusia, juga mengandung potensi pelanggaran etika. Namun, masih banyak jenis sel punca yang tidak kontroversial karena bersumber dari sel individu dewasa dan eksperimennya dari manusia ke manusia, atau hewan ke hewan,” kata Berry.