Indonesia Sambut Kemeriahan Harbolnas 2016
- VIVA.co.id/Agus Tri Haryanto
Dihubungi terpisah, pengamat e-commerce Rama Mamuaya mengungkapkan adanya ajang khusus untuk belanja online, seperti pada ajang Harbolnas menjadi cara untuk menunjukan kualitas kepada pelanggan.
Rama mengatakan dengan bertambahnya peserta Harbolnas 2016, tentu akan memengaruhi untuk mengedukasi kepada masyarakat untuk beralih ke berbelanja online. Hal itu tentunya harus bisa dimanfaatkan untuk menjukkan kualitas para pemain e-commerce.
"Ini (Harbolnas) juga bukan ajang bagi-bagi diskon, tapi lebih jadi ajang yang bagus untuk para e-commerce bisa menunjukkan kualitas layanan kepada pelanggan," kata Rama kepada VIVA.co.id, Senin, 12 Desember 2016.
Dengan makin banyak supply dari konsumen, tentu akan memengaruhi dari demand yang ada. Menurutnya, dengan demand yang tinggi bisa terpuaskan dengan harapan bisa ikut meningkatkan demand.
Rama melihat berdasarkan statistik yang ada bahwa akhir-akhir ini jumlah orang yang mulai mengadopsi belanja online sebagai bagian dari gaya hidup, terus meningkat.
"Ini baru sekitar 30 persen populasi Indonesia yang online. Kebayangkan kalau akan naik 50 persen atau 80 persen dalam beberapa tahun ke depan? Peluang yang luar biasa bagi pebisnis e-commerce.
Mengenai pemerintah yang telah menetapkan peta jalan (roadmap) e-commerce melalui paket kebijakan ke-14, di mana isinya potensi e-dagang pada 2020 bisa mencapai US$130 miliar, walaupun ada yang menyatakan bahwa perhitungan kurang tepat, Rama beranggapan angka US$130 dinilai terlalu ambisius.
Menurutnya ada banyak faktor yang mendukung pencapaian nilai bisnis e-commerce di Indonesia bisa menyentuh US$130 miliar dalam empat tahun ke depan, seperti populasi yang terhubung ke internet, GDP per kapita, tingkat fraud online, dan lainnya.
"Tapi ya namanya mimpi harus tinggi, dan memang extra kerja keras untuk mencapainya dengan kerjasama antara pemerintah dan industri," kata pria yang juga pendiri DailySocial.id. Meskipun terlalu ambisius, Rama mengungkapkan bahwa pemerintah tinggal bergerak untuk menjalankan dan mengeksekusi paket kebijakan ekonomi ke-14 itu.
Ada delapan sektor yang diatur dalam kebijakan paket kebijakan ke-14 ini yaitu pendanaan, perpajakan, perlindungan konsumen, pendidikan dan sumber daya manusia, logistik, infrastruktur organisasi, keamanan siber, dan pembentukan manajemen pelaksana.
Â