Indonesia Sambut Kemeriahan Harbolnas 2016
- VIVA.co.id/Agus Tri Haryanto
Miranda Suwanto SVP Strategic Partnership Lazada Indonesia, mengatakan berdasarkan data dari Google dan Temasek bahwa pada 2020 jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 215 juta, di mana pertumbuhannya 19 persen dari 2015 yang jumlah pengguna internet 92 juta. "Dengan demikian, prediksi itu memperlihatkan jumlah pengguna internet Indonesia terbesar di dunia," kata dia.Â
Melihat laju pertumbuhan kian gesit itu, Miranda mengatakan Indonesia akan menguasai lebih dari 50 persen pasar e-commerce di Asia Tenggara pada 2025. Pada tahun tersebut diperkirakan potensi pasar e-commerce di kawasan Asia Tenggara menyentuh angka US$87,8 miliar atau Rp1.168 triliun.
"Dari total potensi e-commerce di Asia Tenggara sebesar US$87,8 miliar tersebut, Indonesia berkontribusi 52 persennya," ujarnya. Berkuasanya Indonesia soal pasar e-commerce di ASEAN ini, karena jumlah penduduknya yang melebih dari negara-negara lainnya.Â
Selain itu, umur rata-rata penduduk Indonesia, 70 persennya merupakan usia di bawah 40 tahun. Kemudian, e-commerce makin dilirik masyarakat, karena efisiensi waktu, di mana dan kapan saja bisa berbelanja online, dan banyak pilihan produk yang tersedia.
"Maka dari itu, dengan Harbolnas kita ingin mengedukasi dan mengajak masyarakat untuk berbelanja online yang lebih luas lagi. Harbolnas Ini merupakan event bersama, ajang gotong royong e-commerce," tutur dia.
Terpisah Ketua Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), Aulia E. Marinto, meminta agar Harbolnas juga menjadi cara untuk mengedukasi kepada masyarakat mengenai berbelanja secara online.
"Tentu kita mengimbau kepada teman-teman yang ikutan event Harbolnas. Itu etika, etika kan enggak mesti ditulis juga, didiklah dengan cara yang benar, lakukan transaksi dengan aman, jangan lakukan penipuan," ujarnya di Jakarta, Selasa 29 November 2016.
Pada perhelatan Harbolnas tahun lalu, tak sedikit konsumen yang merasa dirugikan akibat munculnya diskon abal-abal. Diskon tersebut ditawarkan dari oknum penjual dari e-commerce saat Harbolnas tahun lalu.
Aulia menuturkan, imbauan soal edukasi kepada pelaku e-commerce terhadap penjual soal barang yang dijualnya, tak hanya semata-mata dilakukan menjelang Harbolnas atau event tertentu lainnya. Melainkan, kata dia, selalu dilakukan setiap saat.
"Kita edukasi itu bukan gara-gara Harbolnas. Kita edukasi terus-menerus, termasuk kayak begini (kampanye clean e-Commerce), member (anggota idEA). Kita bilang, kampanyekan, sosialisasi, edukasi, jadi bukan gara-gara Harbolnas,"  tuturnya.