Murka Sri Mulyani pada JPMorgan
- Getty Images
“Terus terang, saya terganggu (analis JPMorgan), itu tidak betul. Tetapi, kita jadi membuang waktu untuk membela diri untuk menerangkan, saya mendukung keputusan Ibu Sri Mulyani (Menteri Keuangan),” lanjut Tito.
Hal yang sama juga disampaikan Analis PT Indo Premier Securities, Chandra Pasaribu, di mana langkah Menteri Keuangan Sri Mulyani sudah sangat tepat dan tidak akan banyak mengganggu kondisi ekonomi.
Menurut dia, sudah sangat wajar jika pemerintah sebagai perekrut JPMorgan memutuskan kontrak kerja sama, terlebih servis yang diberikan oleh lembaga tersebut dinilai kurang sesuai dengan keinginan pemerintah.
Selain itu, JPMorgan bukan satu-satuanya dan segalanya dalam rekan kerja sama sebagai bank persepsi di Indonesia, karena ada bank persepsi lain seperti Citi dan lainnya yang bisa berikan servis lebih baik ke Kementerian Keuangan.
Sementara itu, Dilansir dari laman Reuters, pada Rabu 4 Januari 2017, seorang juru bicara JPMorgan pada Selasa waktu Newyork menyatakan pihaknya masih akan tetap berbisnis di Indonesia seperti biasa. Langkah yang diambil pemerintah Indonesia, berdampak minimal pada kliennya.
Kemudian, atas masalah ini, JPMorgan berdasarkan juru bicaranya akan tetap terus bekerja sama dengan Kementerian Keuangan untuk menyelesaikan masalah ini. “Dampak ke klien kami minimal dan kami akan bekerja dengan Kementerian Keuangan selesaikan masalah ini,” katanya di dalam sebuah email.
![]()
Menurut mereka, penurunan tingkat surat utang Indonesia dan Brasil adalah menanggapi kondisi ekonomi usai kemenangan Trump, kondisi ekonomi dan kebijakan yang diambil oleh Pemerintah setempat.
Selain itu, tingginya kebutuhan pembiayaan pemerintah dari sektor finansial juga menjadi perhatian, terlebih kepemilikan asing pada obligasi pemerintah masih relatif tinggi dan masih rendahnya upaya pendalaman pasar yang dilakukan, sehingga rentan pembalikan arus modal. (asp)