Menanti Kendaraan Perang Karya Anak Bangsa
- VIVAnews/Ikhwan Yanuar
"India, termasuk negara yang maju dari sisi teknologi militer. Sehingga, menurut saya, kerja sama ini seharusnya dijadikan upaya alih teknologi militer," ujar dia menambahkan.
Politikus dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menilai, perlu adanya alih teknologi. Sehingga, hal tersebut bisa dilakukan PT Pindad untuk dapat mengembangkan teknologi kendaraan amfibi yang lebih canggih di dalam negeri.
Lebih jauh, dia mengingatkan pentingnya kemandirian industri pertahanan. Hal itu sebagaimana yang terdapat pada Undang Undang Nomor 16 Tahun 2012. Di mana, di dalamnya disebutkan salah satu tujuan penyelenggaraan industri pertahanan adalah mewujudkan kemandirian pemenuhan alat pertahanan dan keamanan.
"Upaya kerja sama produksi kendaraan militer dengan perusahaan luar negeri harus dalam kerangka itu (kemandirian). Jika industri militer mandiri, kita tidak perlu lagi khawatir dengan embargo militer negara lain," ujarnya.
Dengan demikian, dia berharap, kemampuan produksi peralatan militer yang semakin maju, Indonesia mampu mengembangkan pasar ekspor alat utama sistem pertahanan, atau alutsista ke luar negeri. "Ke depan kami berharap, Indonesia bisa mengekspor alutsista ke negara lain," katanya.
Rupanya, kerja sama Pindad dengan Tata Motors ini tak hanya terkait dengan kendaraan militer. Kerja sama ini juga tertuang untuk kendaraan komersial. Hal ini juga dibenarkan Abraham Mose. Namun, Abraham menegaskan kerja sama untuk kendaraan komersial ini lebih mengedepankan sisi keunikan.
"Kami juga akan kerja sama untuk kendaraan komersial yang unik dan khusus seperti kendaraan jenis jip atau kendaraan semimiliter. Selain itu juga beberapa kendaraan pertanian bahkan eskalator," kata Abraham.