Bom Waktu 'Tentara' Siber

Ilustrasi-teroris siber.
Sumber :
  • Pixabay/Tigerlily

VIVA.co.id – Era digital memberikan peluang dan tantangan. Lahirnya era digital memunculkan kreativitas baru dan menyajikan potensi ekonomi yang lebih luas dan besar. Bisnis dan pelayanan pemerintah menjadi berkembang dinamis. 

img_title Ngeri! Serangan Siber Bikin Freezer Supermarket Eropa Panas, Ribuan Produk Terancam Terbuang

Tapi di sisi lain, era digital juga menjadi tantangan. Performa jaringan untuk menjalankan kehidupan digital dituntut untuk stabil dan memastikan keamanan data dan informasi. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Layaknya pepatah ‘ada gula ada semut’, berkembangnya era digital mengundang potensi kerawanan. Jaringan teknologi yang berkembang dengan kapitalisasi digital bisa menciptakan celah untuk membobol keamanan. 

img_title Uni Eropa Resmi Wajibkan Laporan Serangan Siber dalam 24 Jam

Tantangan ini sedang dihadapi Indonesia. Kondisi dunia siber Indonesia sedang menjadi perhatian pemerintah. Titik fokusnya adalah bagaimana menjaga jaringan siber di Tanah Air dari serangan dalam atau dari luar. 

Perkara menjaga keamanan siber saat ini, memang ujian pemerintah. Sebab, pemerintah mengakui di satu sisi dunia siber terus melesat, namun Indonesia kekurangan sumber dana manusia yang ahli keamanan siber. Dalam berbagai macam masalah teknologi informasi, unsur sumber daya manusia (SDM) memegang peranan utama.

img_title Ancaman Siber Makin Licin, Jangan Asal Instal di HP

Kondisi ini menimbulkan masalah nyata dalam industri strategis, pertahanan, kesatuan bangsa, bisnis dan lainnya. Bagaimana jarinya saat 'miskin' ahli keamanan siber, Indonesia dilanda perang siber.  

Bertolak dari masalah tersebut, Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama PT Xynexis, pelopor lokal dalam pelayanan jaminan keamanan di Indonesia, meluncurkan program Born to Control. Program penjaringan 10 ribu kandidat gladiator keamanan siber atau 'tentara' siber Indonesia.   

Program ini lahir memang dengan semangat untuk menjadi 'benteng' negara dan perusahaan Indonesia dari serangan siber. 

"Tujuan utamanya, yaitu untuk menyiapkan SDM untuk bisa terjun membantu industri dan pemerintahan dalam menjaga keamanan informasi dan cyber security," kata Chariman Program Born To Control, Eva Noor kepada VIVA.co.id.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Eva mengalkulasi, setidaknya butuh 1,5 juta 'tentara' siber untuk mengamankan jaringan di Indonesia. 

Bicara serangan siber, potensinya memang terus mengintai jaringan Indonesia. Faktanya serangan siber yang melanda jaringan di Indonesia bisa dilihat dari data dari  Indonesia Security Incidents Response Team on Internet Infrastructure, atau ID-SIRTII. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut