Muda, Hacker, dan Berbahaya

Ilustrasi-teroris siber.
Sumber :
  • Pixabay/Tigerlily

VIVA.co.id – Aksi remaja 19 tahun, Sultan Haikal membobol situs jual beli tiket daring, Tiket.com menjadi perhatian publik Tanah Air. Publik terkejut, saat situs korban Haikal dan rekannya, Khairul dan NTM itu mengaku merugi Rp4,12 miliar. Dalam pemeriksaan polisi, Haikal mengaku telah membobol 4.600 situs, termasuk website Polri. 

img_title AI Sekarang bisa Meretas dalam 31 Detik Tanpa Bantuan Manusia

Polisi mengatakan, motif Haikal membobol situs Tiket.com dan bersama rekannya menikmati hasil uangnya itu adalah motif ekonomi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kepada polisi, Haikal mengatakan, awalnya memberitahu ada celah keamanan pada situs penyedia tiket daring tersebut. Dia membuka untuk bekerja sama dengan Tiket.com, namun penawaran itu tak digubris perusahaan daring tersebut. Akhirnya, Haikal menjebol situs Tiket.com, dengan dibantu kedua rekannya tersebut, dengan menyaru sebagai perwakilan maskapai penerbangan Citilink.

img_title Masih Ingat Gary McKinnon? Hacker yang Pernah Menghebohkan Pentagon dan NASA Kini Jadi Produser Musik

Aksi remaja itu memang memprihatinkan, sekaligus menjadi peringatan penting bagi pengelola situs atas keamanan platform mereka.

Pengamat teknologi komunikasi sepakat, aksi Haikal menjadi pelajaran bagi penyedia situs terlebih penyedia layanan e-commerce. 

img_title Masih Ingat Kevin Mitnick? Hacker Legendaris yang Pernah Membuat FBI Kewalahan Bertahun-tahun

Pendiri Communication and Information System Security Research Center (CISSReC), Pratama D. Persadha mengatakan, aksi Haikal tersebut masuk dalam kategori Black Hat Hacker. Kategori ini, merupakan peretas yang motifnya adalah menerobos sistem keamanan, dengan tujuan melakukan perusakan dan merugikan korbannya. 

Kategori ini berbeda dengan White Hat Hacker, yang mana peretas menjalankan aktivitasnya dengan memegang teguh etika. Peretas kategori ini mengakses sistem teknologi platform tertentu, untuk menguji dan mengecek ketahanan situs. Kemudian, jika menemukan celah keamanan akan memberitahukan dan menawarkan diri sebagai konsultan keamanan. 

Menurut Pratama, tak ada gunanya punya keahlian teknologi tinggi, tetapi dipakai untuk tujuan kriminal. Makanya, dia menyesalkan, kenapa Haikal menggunakan keahliannya itu untuk membobol Tiket.com.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pengamat telekomunikasi dari ICT Institute, Heru Sutadi senada dengan Pratama. Pria yang akrab disapa Hersut itu menilai, tindakan Haikal masuk dalam kategori kriminal, dalam hal ini pencurian. Hersut mengatakan, peretas sejati pasti bergerak dengan motif membantu memperbaiki celah keamanan, bukan sebaliknya.

"Kalau ada keuntungan finansial yang dilakukan dari peretasan, mereka bukan hacker, tetapi pencuri," kata Hersut.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut