Gempuran Ransomware di Jagad Siber
- Pixabay/geralt
Serangan ransomware WannaCry itu bisa dianggap sebagai bentuk terorisme siber. Sebab, serangan terjadi secara masif ke banyak sistem komputer di seluruh dunia serta menyasar critical resource atau sumber daya penting. "Dengan adanya serangan siber ini, kami minta agar masyarakat tetap tenang dan meningkatkan kehati-hatian dalam berinteraksi di dunia siber," ujar Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Sammy Pangerapan
Ransomware yang juga dikenal sebagai virus pemalak, menargetkan lebih dari 75 ribu komputer di 99 negara di dunia. Data terbaru, seperti dikutip situs Russia Today, Sabtu, 13 Mei 2017, peningkatan aktivitas malware ini diketahui Jumat, 12 Mei 2017.
Perusahaan keamanan perangkat lunak, Avast, melaporkan peningkatan virus itu. "Dalam hitungan jam, lebih dari 75 ribu serangan telah terdeteksi di seluruh dunia," bunyi keterangan resmi Avast. Ransomware juga terdeteksi menargetkan Inggris, Swedia, Spanyol, Rusia, Ukraina dan Taiwan.Â
Virus ini merupakan versi upgrade dari ransomware yang pertama kali muncul pada Februari tahun ini. Ransomware dipercaya hanya mempengaruhi komputer yang dioperasikan Windows, dengan mengubah nama ekstensi file yang terpengaruh menjadi "WNCRY".
Untuk membuka kunci file yang terinfeksi, korban dituntut membayar US$300 senilai bitcoin yang harus dibayar. "Korban diberi tenggat waktu untuk bayar tebusan. Jika mereka gagal membayar maka data mereka akan dihapus," bunyi pernyataan Avast memperingatkan.
Ransomware bekerja dengan mengeksploitasi "kerentanan yang ditemukan dan dikembangkan oleh National Security Agency (NSA)". Alat peretas (hacking) itu dibocorkan oleh sebuah kelompok yang menamakan dirinya Shadow Brokers (Pialang Bayangan). Mereka mengaku telah mendistribusikan alat hacking NSA yang dicuri sejak tahun lalu.
Senior Director Systems Engineering Asia Pasific Symantec, Sherif El-Nabawi mengibaratkan ransomware seperti dua sisi mata uang. Satu sisi perkembangannya menjadi masalah global. Namun, sisi lain ini merupakan bisnis yang sangat menggiurkan bagi pelaku kejahatan siber. "Kami mengidentifikasi lebih dari 100 jenis malware baru yang dilepaskan ke dunia maya. Ini lebih dari tiga kali lipat jumlah yang teridentifikasi sebelumnya," kata Sherif.
Ini artinya telah terjadi peningkatan sebesar 36 persen dalam serangan ransomware di seluruh dunia. Amerika Serikat merupakan negara target nomor satu para peretas.Â