Daya Beli Turun, 'Hadiah' Saat Lebaran
- VIVA.co.id/Rifki Arsilan
Dia mengungkapkan, data penjualan ritel hanya tumbuh enam persen pada April-Mei 2017. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya penjualan ritel berhasil tumbuh dua digit pada 2012 dan 2013.
"Dengan inflasi 3,2 persen pada 2016 seharusnya mampu mendorong konsumsi rumah tangga naik 5,4-5,6 persen, tapi kemarin cuma 4,6 persen. Tingkat permintaan terbilang kecil," katanya kepada VIVA.co.id di Jakarta, Rabu 28 Juni 2017.
Apalagi, Enny menambahkan, sekarang besaran tarif listrik untuk pelanggan nonsubsidi 900 VA berubah, dan bertepatan dengan tahun ajaran baru. Akibatnya porsi belanja sandang masyarakat menurun, masyarakat juga mengurangi porsi pangannya untuk membeli kebutuhan lainnya, seperti keperluan sekolah.
"Di desa malah ada peralihan, kalau biasanya Lebaran beli baju baru, sekarang cenderung beli gadget baru. Tapi ini tidak mampu menstimulus pertumbuhan ekonomi," katanya.
Enny pun mengingatkan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan daya beli masyarakat. Pemerintah harus menciptakan lapangan kerja agar masyarakat memiliki sumber pendapatan yang memadai.
Dia juga menyoroti masifnya penetrasi barang impor ke Indonesia. Kondisi itu sangat mengancam industri dalam negeri.
"Kita kalah oleh penetrasi barang impor, akhirnya industri berguguran, yang bisa berdampak pada menghilangnya penyediaan lapangan kerja," ucapnya. (art)