Daya Beli Turun, 'Hadiah' Saat Lebaran
- VIVA.co.id/Rifki Arsilan
“Kalau dulu sepatu yang harganya mahal-mahal itu laku juga. Kalau sekarang lebih banyak kelas menengah ke bawah lah barang-barang yang terjual," kata Yan.
Ia menambahkan, pendapatan toko sepatu miliknya tertolong dengan adanya program Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang dimanfaatkan oleh para penerima KJP untuk membelanjakan kebutuhan sepatu untuk sekolah. Karena Lebaran kali ini jatuh bersamaan dengan tahun ajaran baru.
"Kalau tidak ada KJP sudah pasti berkurang sekitar 30 persen, jadi memang rata-rata yang datang itu mencari untuk sekolah. Jadi barang yang mahal tidak laku, kami tertolong dengan KJP juga," tuturnya.
Selanjutnya, Penyebab Turunnya Daya Beli
Penyebab Turunnya Daya Beli
Daya beli masyarakat, khususnya masyarakat kelas menengah ke bawah, tergerus karena upah buruh Mei turun. Diikuti dengan besaran tarif listrik bagi pelanggan nonsubsidi 900 volt ampere (VA) pada Juni ini.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat upah riil buruh pada Mei 2017 menurun. Upah riil buruh tani turun sebesar 0,45 persen dibanding April 2017, yaitu dari Rp37.549 per hari menjadi Rp37.380 per hari.
Sementara itu, untuk upah riil buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Mei 2017 juga turun sebesar 0,13 persen, yaitu dari Rp65.254 menjadi Rp65.170.
Meskipun rata-rata upah nominal buruh bangunan Mei memang naik dibanding April, yakni sebesar 0,26 persen, yaitu dari Rp82.740 menjadi Rp83.958 per hari.
Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, M. Sairi Hasbullah mengatakan, perubahan upah riil menggambarkan perubahan daya beli dari pendapatan yang diterima buruh tani dan buruh informal perkotaan, yang termasuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
"Semakin tinggi upah riil maka semakin tinggi daya beli, begitu pun sebaliknya," kata Sairi.
Konsumsi Rumah Tangga Lemah
Penurunan pendapatan telah menyebabkan kemampuan konsumsi rumah tangga menjadi lemah, meski pemerintah mengklaim harga-harga kebutuhan pokok menjelang Lebaran stabil.
Direktur Institute for Development of Economics and Finance, Enny Sri Hartati, mengatakan, stabilitas harga pangan yang diklaim pemerintah terbaik selama 10 tahun terakhir itu seharusnya mampu mendongkrak daya beli. Nyatanya data-data penjualan ritel malah menurun.