Tumbang di Tangan Rakyat
- REUTERS/Tiksa Negeri
Tapi Mugabe bergeming. Presiden yang telah berusia 93 tahun itu tetap menolak mundur. Namun, dukungan untuk Mugabe terus menurun. Minggu, 19 November 2017, ratusan pejabat senior Partai Zanu-PF, partai yang dipimpin Mugabe, melakukan pemungutan suara.
Hasilnya, partai memecat pemimpinnya sendiri dan mengembalikan Emmerson Mnangagwa, yang sebelumnya dipecat, sebagai ketua.
Karena tak juga terlihat akan mundur, akhirnya pada Selasa, 21 November 2017, parlemen Zimbabwe bergerak. Mereka memulai proses pemakzulan. Sadar sudah tak memiliki kesempatan untuk bertahan, akhirnya Mugabe mengalah.
Sebelum proses pemakzulan dilakukan, Mugabe menyampaikan pengunduran dirinya. Rakyat Zimbabwe bersorak. Mereka turun ke jalan, berpesta, dan menari.
Zimbabwe di Tangan Mugabe
Sebelum berkuasa, Robert Mugabe adalah seorang guru. Selama berkuasa 37 tahun, hasil yang paling terlihat adalah perluasan pendidikan.
Di antara negara Afrika lainnya, Zimbabwe memiliki tingkat melek huruf dan angka yang tertinggi di Afrika, yaitu mencapai 90 persen dari total penduduk.
Dikutip dari BBC, Mugabe pernah dianggap sebagai pahlawan revolusioner. Ia berjuang melawan penguasa kulit putih yang minoritas untuk kebebasan rakyatnya. Ia berhasil melakukan itu, dan hasil itu lah yang antara lain membuat banyak pemimpin Afrika enggan mengkritiknya.
Tapi sejak kemerdekaan Zimbabwe, 18 April 1980, Mugabe tak berkembang lagi. Ia stagnan dengan pemikirannya. Ia terus mengusung isu setan kembar, kapitalisme, dan kolonialisme sebagai dua hal yang harus diperangi. Ia lupa mengantisipasi zaman yang terus bergerak.
Pembebasan buta huruf yang ia lakukan juga membuat generasi muda semakin cerdas dan mampu melihat negara mereka sedang bergerak ke dalam jurang kehancuran. Tapi, sang presiden menutup mata. Ia sibuk mempertahankan kekuasaan dengan menjual mimpi usang.
Mugabe selalu menuding campur tangan negara barat sebagai penyebab negara mereka tak bisa maju. Ia mengatakan, negara barat yang dipimpin Inggris sangat ingin menguasai Zimbabwe.
Bahkan, saat negara itu terpuruk dengan inflasi yang sangat tinggi pada Juli 2008, Mugabe masih dengan gagah mengatakan bahwa ekonomi suatu negara tak mungkin ambruk.
Lupa tumbuh, dan enggan melepaskan kekuasaan akhirnya malah menjadi bumerang buat Mugabe. Rakyat yang sudah marah dan muak terus mendesak. Mugabe tak punya pilihan lagi. Ia harus lengser, atau masa tuanya berakhir dalam tekanan.