Waspada Ancaman Badai di Pulau Jawa

Ilustrasi cuaca ekstrem.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Zabur Karuru

"Gelombang tinggi 2,5 hingga 4 meter Samudera Hindia Selatan Jawa Tengah dan Jawa Timur," ujar dia.

img_title Kadinsos Samosir Lolos dari Hukuman Mati Usai Korupsi Dana Bencana Alam

Prabowo mengimbau masyarakat agar waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, pohon tumbang dan jalan licin. Demi memperkecil dampak buruk dari ancaman bencana tersebut, BMKG juga membuka layanan informasi cuaca 24 jam.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Terpisah, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat BMKG Hary Tirto Djatmiko membenarkan adanya ancaman angin kencang di Pulau Jawa. Dia mengatakan berdasarkan data yang terkini, diindikasikan potensi angin kencang mulai tampak sejak hari ini sampai 3 hari ke depan.

img_title Danantara dan BRI Terjun ke Lokasi Bencana Aceh Tamiang, Salurkan Bantuan dan Dukung Pemulihan Pasca Bencana

"Kondisi tersebut juga diindikasikan meningkatkan tinggi gelombang laut di sekitar wilayah Jawa. Kita akan selalu mengupdate kondisi tersebut," kata Hary saat dihubungi VIVA, Minggu, 26 November 2017.

Meski demikian, Hary mengatakan bahwa cuaca seperti itu (potensi angin kencang) merupakan siklus yang rutin terjadi setiap tahun. Oleh karena itu, sifatnya masih biasa, alias tidak ada yang luar biasa atau darurat. Tapi, institusinya tetap harus memberi peringatan kepada masyarakat dan semua pihak.

img_title Megawati Sentil Buzzer saat Bencana Alam: Jelek-jelekin Orang Buat Cari Duit!

"Hanya peringatan dini. Waspada potensi banjir, longsor, angin kencang dan gelombang tinggi. Kewaspadaan perlu ditingkatkan menjelang puncak musim hujan baik yang di darat dan di laut," ujarnya.

Lebih lanjut, Hary juga mengingatkan potensi bencana akibat musim hujan (banjir, tanah longsor, genangan, angin kencang, pohon tumbang) tidak hanya untuk Pulau Jawa saja melainkan juga daerah-daerah seperti Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Aceh, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Riau, dan lain-lainnya.

Antisipasi Bencana

Badan Nasional Penanggulangan Bencana pun mengimbau agar pemerintah daerah dan masyarakat setempat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi bencana. Sebab, curah hujan ekstrem makin meningkat saat ini, hal itu bisa terjadi karena dampak perubahan iklim global.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, menurut mereka, bencana alam terus terjadi karena manusia sendiri yang merusak lingkungan. Misalnya terjadinya degradasi lahan, daerah aliran sungai yang kritis dan banyaknya penduduk yang tinggal di daerah rawan bencana semakin meningkatkan risiko bencana.

"Saat ini sesungguhnya darurat ekologi, luas lahan kritis di Indonesia sekitar 24,3 juta hektar. Laju keruskan hutan rata-rata berkisar 750.000 hektare per tahun," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, Senin, 20 November 2017, lalu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut