Fenomena Geng Motor Tak Sekadar Kriminal
- ANTARA/Indrianto Eko Suwarso
Iqbal mengklaim, melalui pendekatan penyaluran hobi itu sebenarnya keberadaan geng motor, terutama di kota-kota besar, sebenarnya sudah jauh berkurang. Namun polisi tetap menindak tegas jika ditemukan geng motor yang kerap membuat kericuhan, termasuk pelaku di bawah umur dan wanita.
Hanya perlakuan terhadap anak-anak dan wanita dibedakan, sesuai Undang-Undang tentang Perlindungan Anak. "Itu lex specialis (hukum yang bersifat khusus), ada regulasi tertentu; kalau ada yang di bawah umur tujuh belas tahun ada undang-undang tersendiri, kami akan koordinasi dengan beberapa stakeholder yang membidangi itu," ujarnya.
Tetapi pendekatan yang digunakan polisi dianggap memiliki kelemahan karena belum menyentuh akar persoalan sebenarnya, sebatas solusi untuk dampak-dampak yang ditimbulkan. Masalah sebenarnya terletak pada faktor-faktor yang menjadi pemicu atau berkembangnya geng motor itu.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI menganalisis, penyebab marak geng motor sebenarnya keluarga. Jasra Putra, komisioner KPAI, setelah menemui para anggota geng motor tersangka pelaku penjarahan di Depok, menemukan fakta bahwa mereka berlatar belakang keluarga prasejahtera atau tergolong kelas menengah ke bawah.
Para remaja itu, kata Jasra, kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tua masing-masing. "Karena orang tuanya sibuk bekerja," katanya dalam wawancara dengan tvOne pada Selasa pagi. "Dari segi pengasuhan," menurutnya, "mereka memiliki keterbatasan karena prasejahtera."
Analisis Jasra itu didukung keterangan polisi atas pemeriksaan terhadap para tersangka, terutama yang berhubungan dengan tindakan penjarahan. Barang-barang hasil jarahan tidak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi maupun kelompok, melainkan untuk diberikan sebagai hadiah kepada kelompok lain.
“Barang jarahan dibagi-bagi dan sebagian dipersiapkan untuk bingkisan ketika kelompok ini diundang gabung untuk konvoi," kata Ajun Komisaris Besar Polisi Didik Sugiyarto.
Berdasarkan pengakuan tersangka berinisial AG, anggota Geng Jepang, tersimpul niat bahwa aksi mereka tidak hanya bermotif kriminal murni, melainkan sekadar demi eksistensi dan popularitas. “Biar eksis aja, Pak, enggak ada maksud lain,” katanya.
AG pun mengaku, kelompoknya sengaja menyewa sebuah rumah di kawasan Pitara, Kecamatan Pancoran Mas, untuk dijadikan base camp atau markas. Rumah itu, selain tempat berkumpul, juga untuk menaruh sejumlah senjata tajam perlengkapan beraksi.