Mobil-mobil Hits di 2018
- VIVA.co.id/M Ali Wafa
Kondisi didorong preferensi mobil pilihan masyarakat Indonesia dan kehadiran model baru. Di posisi selanjutnya, SUV juga bakal menggeliat. Walau volumenya masih jauh dari MPV dan tak signifikan dalam mengangkat pasar.
"Segmen yang bakal tumbuh MPV. Low MPV bakal naik, karena pemainnya bertambah. Kemudian, medium MPV akan stabil. SUV juga akan tumbuh di 2018. Medium SUV, akan ada kenaikan sedikit. Untuk hatchback, saya rasa akan stabil," ujar Henry.
Namun, ada yang menarik dari apa yang diungkapkan Mitsubishi. Sebab, walau SUV mulai 'memuai' penjualannya, namun karakteristiknya bakal berubah mengikuti selera pasar dalam negeri.
Seperti transformasi jumlah baris bangku. Apabila SUV kental dengan dua baris bangku, kini sudah banyak SUV yang mulai menjelma jadi tiga baris bangku, atau dapat menampung hingga tujuh penumpang. Sebut saja Toyota Rush, Daihatsu Terios, dan Mitsubishi Pajero Sport.
"Produsen mulai membuat yang seven seater ya. Kami melihat orang Indonesia lebih senang menggunakan mobil yang berkapasitas tujuh penumpang," kata Head of Sales and Marketing Group PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) Imam Choeru Cahya.
Namun, perubahan tren di segmen SUV itu tak akan mengganggu pasar mobil keluarga, atau MPV. Mengingat, karakteristik SUV dengan MPV berbeda. Harga untuk sebuah mobil SUV pun dibanderol lebih tinggi dari MPV. "Segmennya berbeda. SUV berkapasitas tujuh penumpang tak akan menggerus pasar MPV."
Selain model, warna-warna yang bakal populer jika menarik untuk dipantau. Jika melihat tren dua tahun ke belakang, putih bisa dikatakan kelir yang kebanjiran peminat. Untuk itu, banyak pabrikan otomotif kemudian menghadirkan warna tersebut.
Di 2018, seperti dilansir Motortrend, putih diprediksi akan jadi warna yang populer untuk kelir mobil pilihan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh PPG, hampir 60 persen konsumen mengatakan, bahwa warna merupakan faktor utama sebelum memutuskan melakukan pembelian kendaraan. Dan, survei mengatakan, sebagian besar konsumen alias 75 persen dari yang disurvei, lebih memilih warna konservatif seperti putih, hitam, abu-abu, dan silver.
Pertanyaan pun muncul, apakah preferensi warna disebabkan oleh 'paksaan' yang ditawarkan oleh produsen. Ternyata tidak. Sebab, perusahaan justru selalu menggunakan pendekatan pada keinginan konsumen. Untuk itu, andai pun ada warna-warna tertentu, maka produsen coba hadirkan sebagai edisi terbatas. Padahal, statistik menunjukkan jika warna itu tidaklah populer.