Khutbah Jumat: Pentingnya Memiliki Pemimpin Menjunjung Adab
- U-Report
اَلصِّدْقُ اَمَانَةٌ وَالْكِذْبُ خِيَانَةٌ.
Berlaku jujur adalah amanah, berlaku bohong adalah khianat.
Manakala seorang pemimpin memiliki kejujuran, maka ia akan dapat memimpin dengan tenang, karena kebohongan akan membuat pelakunya gelisah.
Kelima, akhlak seorang pemimpin adalah Memenuhi Hak Rakyat. Setiap pemimpin harus mampu memenuhi hak-hak rakyat yang dipimpinnya, bahkan bila hak-hak mereka dirampas oleh orang lain, maka seorang pemimpin itu akan berusaha untuk mengembalikan kepadanya.
اَلضَّعِيْفَ فِيْكُمْ قَوِيٌّ عِنْدِى حَتَّى اُرْجِعَ اِلَيْهِ حَقَّهُ اِنْ شَاءَ اللهُ
“Siapa saja yang lemah diantaramu akan kuat bagiku sampai aku dapat mengembalikan hak-haknya, insya Allah”.
Sidang Jumat Yang Dimuliakan Allah.
Akhlak seorang pemimpin yang Keenam adalah Memberantas Kezaliman. Kezaliman merupakan sikap dan tindakan yang merugikan masyarakat dan meruntuhkan kekuatan suatu bangsa dan negara. Karena itu, para pemimpin tidak boleh membiarkan kezaliman terus berlangsung. Ini berarti, seorang pemimpin bukan hanya tidak boleh bertindak zalim kepada rakyatnya, tapi justeru kezaliman yang dilakukan oleh orang lain kepada rakyatnyapun menjadi tanggungjawabnya untuk diberantas. Karenanya bagi Khalifah Abu Bakar, sekuat apapun atau sebesar apapun pengaruh pelaku kezaliman akan dianggap sebagai kecil dan lemah. Dalam pidato yang mencerminkan akhlak seorang pemimpin, beliau berkata:
وَالْقَوِيُّ مِنْكُمْ ضَعِيْفَ عِنْدِ حَتَّى آخَذُ مِنْهُ اِنْ شَاءَ اللهُ
“Siapa saja yang kuat diantaramu akan lemah berhadapan denganku sampai aku kembalikan hak orang lain yang dipegangnya, insya Allah.”
Ketujuh yang merupakan akhlak seorang pemimpin menurut Khalifah Abu Bakar Ash Shiddik adalah Menunjukkan Ketaatan Kepada Allah swt. Pemimpin yang sejati adalah pemimpin yang mengarahkan rakyatnya untuk mentaati Allah Swt dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, iapun harus menunjukkan ketaatan yang sesungguhnya. Namun bila seorang pemimpin tidak menunjukkan ketaatannya kepada kepada Allah dan Rasul-Nya, maka rakyatpun tidak memiliki kewajiban untuk taat kepadanya. Dalam kaitan inilah, Khalifah Abu Bakar menyatakan dalam pidatonya:
اَطِيْعُوْنِى مَا اَطَعْتُ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَاِنْ عَصَيْتُ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَلاَطَاعَةَ لِى عَلَيْكُمْ.
“Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Apabila aku tidak taat lagi kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kewajibanmu untuk taat kepadaku”.
Dengan demikian, jelas ketaatan kepada pemimpin tidak bersifat mutlak sebagaimana mutlaknya ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, inilah diantara isyarat yang bisa kita tangkap dari firman Allah swt yang tidak menyebutkan kata taat saat menyebut ketataan kepada pemimpin (ulil amri) dalam firman-Nya: