Abdurrahman Wahid

Presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
Sumber :
  • embunhikmah

VIVA.co.id – Perjalanan hidup Abdurrahman Wahid penuh cerita dan kontroversial. Sosok lengkap melekat pada dirinya. Ia dikenal sebagai intelektual, aktivis, ulama, budayawan, politikus hingga pengamat bola. Puncak kariernya, ia menjadi presiden dari kalangan pesantren.

img_title Yenny Wahid soal Polemik Wadas: Jangan sampai Muncul Retorika

Ia menjadi presiden RI ke-4 menggantikan B.J Habibie. Saat pemilihan presiden pada Sidang MPR RI 1999, ia mengalahkan Megawati. Sosok Gus Dur, panggilan Abdurrrahman Wahid,meski sudah menjadi presiden, ia tetap mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversial.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sikapnya ini sudah terbiasa sejak ia berusia 31 tahun saat  terjun ke dunia masyarakat lewat penelitian, pemikiran, dan tulisan-tulisannya. Bahkan tak takut walaupun berseberangan dengan kiai besar NU lainnya. Ia melakoninya hingga 38 tahun lamanya hingga akhir hayatnya.

img_title KH Abdurrahman Wahid Diusulkan Jadi Nama Bandara di Blora 

Abdurrahman Wahid lahir di Jombang, Jawa Timur 7 September 1940 dengan nama lahir Abdurrahman Addakhil. Namun, karena Addakhil terdengar asing, maka namanya diganti menjadi Abdurrahman Wahid. Ia merupakan anak pertama dari 6 bersaudara dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. 

Gus Dur lahir dari keluarga terhormat karena sang ayah merupakan anak dari Hasyim Asy’ari, pendiri NU (Nahdlatul Ulama) dan Pesantren Tebuireng Jombang. Sedangkan, ibunnya merupakan anak dari pendiri Pesantren Denanyar Jombang. Ia menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat orang putri.

img_title Tokoh Konghucu yang Pernah Sembunyi di Rumah Gus Dur Meninggal Dunia

Masa kecil Gus Dur, ia menempuh pendidikan dasar di SD Kris Jakarta, tapi tidak selesai, kemudian pindah ke SD Matraman Perwari. Hingga tahun 1952, Gus Dur tetap tinggal di Jakarta meskipun sang ayah sudah tidak menjabat sebagai Menteri Agama lagi. Setahun kemudian, Ayah Gus Dur wafat akibat kecelakaan mobil.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Saat Sekolah Menengah Pertama, Gus Dur tidak naik kelas. Oleh karena itu, sang ibu mengirim Gus Dur ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikan mengaji bersama KH. Ali Maksum di Pondok Pesantren Krapyak dan belajar di SMP juga. Pada tahun 1957 Gus Dur melanjutkan sekolahnya di pondok pesantren Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah hingga tahun 1959. Ia melanjutkan ke pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur.

Saat usianya 23 tahun, Gus Dur mendapat beasiswa dari Kementerian Agama untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Syari’ah Al Azhar University, Cairo, Mesir. Di sana ia sangat menikmati kehidupannya, mulai dari nonton film Eropa hingga menonton sepak bola. Ia juga terlibat dengan perkumpulan Asosiasi Pelajar Indonesia sebagai jurnalis majalah untuk asosiasi tersebut.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut