Abdurrahman Wahid
- embunhikmah
Gus Dur juga bekerja di Kedutaan Besar Indonesia. Sampai suatu ketika terjadilah gerakan komunis pada bulan Septemer, dikenal G 30 S PKI, pada tahun 1965. Upaya pemberantasan komunis dilakukan di Jakarta. Segalanya ditangani oleh Mayor Jenderal Soeharto. Untuk mendukung upaya tersebut, Gus Dur diminta menginvestigasi para mahasiswa dan memberikan laporan kedudukan politik mereka.
Lagi-lagi Gus Dur mengalami kegagalan dalam pendidikannya. Hal ini karena ia tidak setuju dengan tata cara dan metode pembelajaran yang diterapkan di sana. Ditambah lagi, kejadian G 30 SPKI cukup mengusik ketenangannya. Pada tahun 1966, ia harus mengulang pendidikannya dan pendidikan sarjananya diselamatkan oleh beasiswa di Universitas Baghdad, Irak.
Menebus kelalaiannya di masa lalu, Gus Dur terbilang sukses di universitas barunya ini. Ia juga masih bergabung dengan Asosiasi Pelajar Indonesia dengan posisi yang sama. Setelah lulus tahun 1970, Gus Dur ingin melanjutkan studinya ke Universitas Leiden, Belanda. Tapi, sayang sekali keinginan itu harus dikubur karena pendidikan di Universitas Baghdad tidak diakui oleh universitas tersebut. Akhirnya, sebelum kembali ke tanah air Gus Dur pergi ke Jerman dan Prancis terlebih dahulu dan kembali ke Jakarta pada tahun 1971.
Saat itu, sebetulnya, Gus Dur masih ada keinginan untuk melanjutkan kuliah di luar negeri, tepatnya di Universitas McGill di Kanada.
Karena belum kesampaian, ia pun bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Sebuah organisasi berisikan orang-orang intelektual muslim progresif dan sosial demokrat. Gus Dur pun terlibat sebagai kontributor utama majalah Prisma terbitan lembaga tersebut. Ia juga berkeliling pesantren seluruh Jawa.
Pada saat itu, nilai-nilai pesantren semakin luntur. Pesantren-pesantren tersebut mencoba mengadopsi kurikulum pemerintah dengan harapan mendapat bantuan pendanaan. Melihat kemiskinan yang melanda pesantren-pesantren tersebut, Gus Dur pun urung untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri dan lebih fokus untuk mengembangkan pesantren.
Gus Dur juga melanjutkan kariernya sebagai penulis dengan menulis artikel untuk Majalah Tempo dan Harian Kompas. Ia dikenal sebagai pengamat sosial dan sering diundang untuk mengisi seminar sehingga memaksanya sering pulang-pergi Jakarta-Jombang.