Curhat Jurnalis Asing Kala Bertugas di China
- Pixabay
Drone bukan satu-satunya alat digital yang digunakan oleh rezim Komunis China untuk mengawasi jurnalis asing, karena laporan tersebut lebih lanjut mengungkapkan penggunaan pengawasan dan peretasan elektronik secara ekstensif oleh rezim Komunis China.Â
Menurut laporan tersebut, sebagian besar dari mereka yang disurvei percaya bahwa pihak berwenang China mungkin atau pasti telah mengkompromikan komunikasi mereka melalui aplikasi media sosial China WeChat, telepon rumah atau telepon seluler, dan perangkat penyadap audio yang dipasang di rumah atau kantor mereka oleh aparat pengawasan PKC yang tersebar luas.
Selain itu, laporan tersebut menyatakan bahwa beberapa responden menerima pesan teks mencurigakan dengan verifikasi atau kode login yang tidak mereka minta, kemungkinan besar merupakan hasil dari upaya peretasan yang dilakukan oleh PKC.
Laporan tersebut mencatat bahwa beberapa pejabat pemerintah merujuk pada informasi yang diyakini responden hanya dapat diketahui dengan mengakses akun atau perangkat pribadi mereka, sehingga mengungkap ketidakpedulian PKC terhadap privasi dan hak-hak individu. Seorang jurnalis yang tidak disebutkan namanya dari sebuah surat kabar Eropa menggambarkan dinamika antara pejabat China dan jurnalis asing sebagai perjuangan terus-menerus melawan penindasan PKC.
Situs bersejarah Kota Terlarang atau Forbidden City di Beijing, Tiongkok
- ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Jurnalis tersebut menyatakan bahwa strategi apa pun yang dicoba, sistem pengawasan dan keamanan China beradaptasi dan mempersempit ruang untuk pemberitaan di bawah pemerintahan totaliter PKC. PKCÂ tidak menoleransi kebebasan pers, dan selama bertahun-tahun, China telah menjadi salah satu negara yang paling banyak memenjarakan jurnalis di bawah rezim otoriter.
Sekitar 99 persen dari mereka yang disurvei mengatakan kondisi pelaporan di China jarang atau tidak pernah memenuhi standar pelaporan internasional karena pembatasan yang dilakukan oleh Partai Komunis China. Sementara itu, 81 persen mengatakan mereka pernah mengalami campur tangan, atau kekerasan saat bekerja di China.
Laporan tersebut menyatakan bahwa lebih dari separuh responden mengatakan mereka dihalangi oleh polisi atau pejabat lainnya setidaknya satu kali, seperti dilarang merekam, mengambil gambar, melakukan wawancara, atau ditahan. Mereka mengecam taktik sensor PKCÂ terhadap media asing. Banyak orang di China menolak berbicara dengan jurnalis asing karena takut akan hukuman dari PKC.