Perang Chip Usik Geliat Perekonomian China?
- Data Driven Investor
VIVA – Perekonomian China sedang lesu. Pemulihan pasca pandemi terlalu singkat untuk dipertahankan. Sentimen konsumen rendah. Masyarakat China pada umumnya berinvestasi pada emas, dibandingkan saham dan instrumen keuangan lainnya, sebagai bentuk ketidakpercayaan terhadap perkembangan perekonomian negaranya.
Beijing melaporkan pertumbuhan sebesar 5,2 persen pada tahun 2023, tetapi analis Rhodium Group mempertanyakan kredibilitas angka tersebut. Rhodium menawarkan penelitian khusus China.
Yang terpenting, rencana China untuk menjadi negara adidaya teknologi sangat dirugikan oleh pembatasan ketat yang diberlakukan oleh negara-negara Barat yang dipimpin Amerika Serikat (AS) yang menolak akses Beijing terhadap teknologi mikrochip mutakhir.
Microchip adalah pusat saraf dari setiap mesin modern. Dari ponsel, mobil, hingga pesawat terbang, semuanya berjalan pada sirkuit tercetak pada sepotong kecil plastik. Kinerja microchip lah yang menentukan ketepatan serangan rudal balistik. Semakin tipis microchipnya, semakin efisien. Dan efisiensi microchip lah yang memegang kunci industrialisasi di zaman otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI).
Dilansir Financial Post, Rabu 19 Juni 2024, menurut laporan di The Atlantic, chip AI terbaru yang dikembangkan oleh raksasa AS Nvidia 16 kali lebih cepat dibandingkan chip 7 nanometer yang diluncurkan oleh raksasa telekomunikasi Tiongkok Huawei pada September 2023.
Huawei telah menghadapi sanksi AS sejak 2019, sehingga mengalami kerugian. akses ke chip 5nm yang diproduksi oleh TSMC Taiwan di bawah dukungan AS. TSMC sudah memproduksi chip 3nm secara massal untuk perusahaan Amerika dan Eropa.
Perusahaan teknologi asal China, Huawei, di MWC 2024, Barcelona, Spanyol.
- VIVA/Surya Aditya
Masalahnya bukan hanya pada pengembangan chip. Barat tidak hanya menguasai pasar chip tetapi juga pasar peralatan manufaktur chip. The Atlantic mengungkapkan, pada tahun 2022, pemerintahan Joe Biden melarang perusahaan-perusahaan Amerika menjual chip dan peralatan pembuatan chip paling canggih ke Tiongkok tanpa izin khusus, yang secara efektif mengisolasi sektor teknologi Tiongkok.
Biden juga membujuk sekutunya Jepang dan Belanda, dua sumber utama mesin semikonduktor lainnya untuk menerapkan larangan mereka sendiri. Kontrol Biden juga mencegah perusahaan pembuat chip asing lainnya yang menggunakan teknologi AS, seperti TSMC, memproduksi chip canggih untuk perusahaan Tiongkok, lanjut The Atlantic.