“Sunset” Bisnis Televisi Tidak Terbendung
- Pixabay/mohamed_hassan
Bukan hanya televisi berita, televisi hiburan pun terpaksa mengurangi karyawan, karena banyak acara yang ditinggalkan pemirsa. Hasil penelitian lembaga-lembaga rating yang selalu dibeli pemasang iklan (agar mereka tahu acara di televisi mana cocok memasang iklan), tak bisa dibohongi.
Algoritma pemasang iklan di medsos, promosi mereka langsung muncul pada tayangan yang mereka mau. Algoritma iklan pancing misalnya, langsung muncul di podcast serba-serbi hobi memancing. Jadi tepat sasaran.
Modal membuka channel di medsos boleh dibilang nol rupiah, sedangkan mendirikan stasiun televisi butuh ratusan miliar rupiah. Dibanding televisi, biaya produksi acara di medsos sangat kecil. Televisi hanya memperoleh iklan pada saat acara ditayangkan, sedangkan tayangan di medsos bisa dapat iklan sepanjang abad, generate iklan setiap kali ditonton pemirsa, sesuai on demand.
Portal berita yang kini sudah mampu menayangkan video berita, membuat televisi semakin terpojok. Para pengelola portal berita pun semakin kreatif, mereka juga membuka podcast, mendaya-gunakan wartawan yang cakap mengolah isu dan mempunyai hubungan baik dengan para narasumber.
Kita bersimpati kepada rekan-rekan karyawan televisi yang terpaksa mengalami PHK. Semua ini konsekoensi logis kemajuan teknologi. Kita hanya bisa mengingatkan, jika hak-hak normatif para korban PHK tidak dipenuhi, tentu akan menjadi masalah hukum.
Rekan-rekan eks pekerja televisi yang cakap dalam industri audio visual, sesungguhnya dinantikan industri yang sama di medsos. Jadi peluang besar ada di depan mata.
Pendapat yang diungkapkan dalam tulisan ini adalah milik pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan VIVA.co.id