“Sunset” Bisnis Televisi Tidak Terbendung

Ilustrasi menonton siaran tv digital.
Sumber :
  • Pixabay/mohamed_hassan

Surat Kabar & Majalah

img_title Kemenkeu Raih Opini WTP ke-15 secara Berturut-turut dari BPK, Begini Kata Purbaya

ilustrasi artikel koran

Photo :
  • Pixabay/pexels

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebelum harian pagi dan majalah, yang pertama-tama dilindas radio dan televisi adalah surat kabar sore di seluruh dunia. Tak perlu lagi menunggu berita dari koran sore, sebab ada siaran langsung di radio dan televisi. Televisi dan radio merebut porsi iklan, membuat surat kabar sore megap-megap.

img_title Dikasih AI, TV Bisa Ngobrol dengan AC

Majalah dan harian pagi, “dibunuh” oleh portal berita. Media ini bisa dibaca dari mana dan kapan saja, secara gratis. Penguasaan bahasa asing untuk membaca media luar negeri, tak mutlak lagi, sebab ada penerjemah daring. 

Iklan yang mayoritas sudah dikuasai televisi, kemudian diambil lagi oleh portal berita. Jadi sisa untuk media cetak semakin kecil lagi. Tak heran, banyak yang berhenti cetak. Pertama-tama di Amerika, karena di sanalah daring termaju. 

img_title HDMI vs DisplayPort, Mana yang Sebenarnya Lebih Canggih?

Tersohor adalah majalah Newsweek,  setelah 80 tahun berkibar, mengakhiri edisi cetak di penghujung 2012, berubah menjadi daring: Newsweek Global (Januari 2013). Reader's Digest yang berusia selama 91 tahun, berakhir pada pertengahan Februari 2013. Menjadi portal saja. Tak terhitung lagi media cetak Amerika yang digilas portal berita.

Pun di Indonesia, sejumlah harian pagi sudah berhenti cetak. Semisal harian Sinar Pagi, Indopos, Koran Tempo, Harian Sindo dan banyak media lagi. Almamater penulis, Suara Pembaruan juga terpaksa berhenti cetak sejak 1 Februari 2021. Terakhir, Majalah Gatra mohon diri. Mayoritas koran cetak daerah sudah berhenti terbit.

“Sunset” Televisi

Tangis Presenter Pecah Saat Siaran Terakhir Kompas Sport Pagi

Photo :
  • Kompas TV

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penyebab utama merosotnya media cetak adalah iklan yang semakin menurun, karena mayoritas sudah diambil media daring. Iklan adalah laksana darah bagi media. Tanpa iklan dalam waktu yang lama, sama dengan darah yang tidak mengalir (jantung berhenti berdenyut). Tak ada media yang kuat jika tanpa sokongan iklan.

Dengan perkembangan teknologi seperti dipaparkan di atas, tentu bukan hal aneh jika perkembangan media sosial (medsos) mendorong bisnis televisi untuk memasuki masa sunset. Kelebihan medsos yang tidak mungkin ditandingi televisi, adalah sifat medsos yang on demand, tergantung pemirsa mau menonton konten apa, sesuai keinginan. Gerak iklan pun bergerak ke medsos.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut