Garda Bangsa dan Gerakan Diet Kantong Plastik

Kantong plastik.
Sumber :
  • http://www.gomuda.com/

Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, kebijakan mengurangi penggunaan plastik di Indonesia dapat dikatakan agak terlambat. Di Australia, guna mengurangi penggunaan plastik, di setiap toko dijual “tas belanja dari kain” dengan harga yang  murah, namun bisa dipakai berkali-kali.

img_title Kebangkitan Komunis antara Gaya Baru dan Modus Lama

Di Perancis, supermarket  Carrefour “memaksa” konsumennya untuk membeli tas kain ramah lingkungan. Tidak jauh berbeda dengan Perancis, di Inggris, beberapa supermarket besar memberi discount khusus senilai 1-4 Poundsterling bagi pembeli yang membawa tas sendiri dari rumah. Pemerintah Australia mengkampanyekan “SAY NO TO PLASTIC BAGS”, yang mendorong pembeli dan penjual untuk menggunakan kantong alternatif. Pemerintah Taiwan mewajibkan  supermarket untuk menagih biaya tambahan  apabila  membeli kantong. Inilah salah satu yang menginspirasi pemerintah Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di Indonesia, Sejak 2009 lalu (POM) RI telah mengeluarkan peringatan publik tentang bahaya kantong plastik hitam. Hal ini dikuatkan dengan banyak penelitian yang membuktikan dampak negatif kantong plastik dalam mendegradasi lingkungan.

img_title Kekerasan Seksual dan Tamparan Keras untuk Pemerintah

Pasar ritel di Indonesia sebenarnya hanya menguasai 30 persen dari seluruh barang keperluan masyarakat, sedangkan 70 persennya diperoleh dari pasar tradisional dan warung, yang sebagian besar menggunakan kantong plastik sebagai sarananya. Karenanya, dapat dikatakan lebih dari 90 persen kantong plastik digunakan di pasar tradisional dan warung, yang notabene tidak ramah lingkungan. Banyak yang mengatakan bahwa pasar modern, 95 persennya telah menggunakan kantong plastik yang ramah lingkungan untuk konsumen. Namun benarkah demikian?

Menurut peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono, bahwa plastik dengan klaim degradable yang disediakan oleh perusahaan ritel umumnya hanya pecah di alam, bukan terurai secara biologis. Contohnya seperti jenis oxodegradable yang merupakan palstik yang terpecah-pecah karena teroksidasi.

img_title Cara Mudah Menulis Opini di Media

Proses produksi plastik oxodegradable baisanya hanya ditambahkan zat adiktif atau logam berat pada plastik sehingga ketika berada di lingkungan panas dan terkena sinar matahari, lapisan akan luruh. Katalis akan memecah plastik. Akhirnya plastik akan pecah kecil-kecil, bahkan bisa berukuran mikro atau biasa disebut mikro plastik.

Masyarakat bisa terjebak pada klaim ‘ramah lingkungan’ atas produk oxodegradable. Seolah dengan memakai plastik dengan jenis itu, maka sudah go green, padahal plastik hanya terpecah dari bentuk besar ke bentuk kecil-kecil. Namun zat plastiknya tetap ada dan tidak bisa diurai.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut