Dilema Kolektivisme Nahdlatul Ulama
- VIVA.co.id/Anhar Rizki Affandi
Dilema Kolektivisme
Jika ditelusuri lebih jauh, sami’na wa atho’na dianut sebagai nilai moral karena tingginya kepercayaan masyarakat terhadap kiai. Kiai dipercaya sebagai orang ’suci’ yang mempunyai kecakapan religius dalam pengambilan keputusan atas dasar nilai-nilai agama. Setiap fatwa dan setiap keputusan kiai adalah kebenaran bagi masyarakat NU. Dalam kehidupan demokrasi bukan lagi Vox Populi Vox Dei atau suara rakyat adalah suara Tuhan. Melainkan Vox Sacerdotum Vox Dei, suara kiai suara Tuhan.
Mengenai agama dan politik, menurut Max Weber dalam buku “Masyarakat dan Negara” karya Ignas Kleden (2004), setiap kekuasaan politik berpotensi untuk memperluas wilayah kekuasaan dalam lingkungan agama (Caesaropapisme). Setiap kekuasaan agama tergoda untuk memperluas kekuasaannya dalam bidang politik (Hierokrasi). Perihal ini dapat kita saksikan pada kepercayaan masyarakat NU terhadap kiai yang berujung pada kekecewaan. Dalam kancah politik praktis, tidak sedikit kiai NU yang terjerumus dalam skandal korupsi.
Di Jawa Timur, sebagai daerah basis massa NU, kita disuguhkan oleh kasus korupsi yang menimpa kiai Fuad Amin yang notabene kiai NU. Belum lagi kemapanan dinasti politik yang juga berhasil dibangun. Fenomena berbagai kasus kiai NU tersebut telah mengingatkan kita bahwa kolektivisme (NU) ujungnya akan membawa petaka bagi kemanusiaan. Seperti petuah Lord Acton, “Semua kekuasaan itu korup, apalagi kekuasaan absolut” (Hayek, The Road to Serfdom: 2001)
Quo Vadis NU?
Sepak terjang NU sebagai organisasi besar kemasyarakatan Islam menuai beberapa catatan. Mulai dari relasi patronase kiai dan santri yang melahirkan kepatuhan semu, sampai pada skandal para kiai yang terlilit korupsi dan dinasti politik.
Quo Vadis NU? Di satu sisi kita disuguhkan pada torehan prestasi-prestasi NU beserta keteladanan para tokoh besarnya. Disisi lain kita pun perlu membangun kritisisme terhadap NU. Pemikiran-pemikiran kritis tentang NU telah muncul dalam berbagai manifestasinya. Terselenggaranya forum-forum dan dialog publik yang membahas tentang NU menjadi bukti betapa masyarakat begitu antusias untuk berjalan bersama NU dalam melanjutkan mimpi kemerdekaan.
Bahkan, diterbitkannya buku-buku dan karya-karya akademik, salah satu naskah terbaiknya adalah “Rowing in a typhoon: Nahdlatul Ulama and the decline of parliamentary Democracy” karya Greg Fealey pada tahun 1992, peneliti politik Islam Australia National University yang juga memperkaya khasanah ilmu pengetahuan di Indonesia.