Jangan Lupa untuk Bahagia
- U-Report
Meski tidak secara ekspilisit diungkapkan, saya tahu kalau Gatot itu sedang bahagia. Iya, bahagia. Saat orang merasa bahagia, semua unsur negatif yang sebelumnya ada dalam diri kita untuk sesaat pasti langsung berganti dengan hal-hal positif yang membuat kita bahagia. “Ah, kapan ya terakhir saya merasa bahagia kayak si Gatot?” Sepertinya yang saya rasa akhir-akhir ini masih dalam tahap senang sekali belum mencapai level bahagia.
Besoknya setelah pulang dari kos Gatot, Ibu saya ngabarin kalau magic jar di rumah rusak jadi susah kalau mau bikin nasi putih. Biasanya sih masalah seperti ini akan di atasi oleh kakak, tetapi karena kakak saya saat itu lagi tidak ada akhirnya saya berinisiatif mengajak ibu saya untuk membeli magic jar baru. Setelah memilih magic jar, saya traktir ibu makan di Ampera, karena ibu saya paling senang makan di Ampera. Sambil makan, kita cerita-cerita banyak hal dan tanpa sadar ada kebahagiaan tersendiri saat melihat ibu saya merasa senang.
Sepulang berbelanja, di jalan saya melihat ada kakek tua yang sedang berjualan ikan. Saya kemudian menepi dan membeli ikan si kakek, padahal saya sendiri tidak punya kolam atau akuarium di rumah. Saya beli 20 ribu dan ketika saya membelinya si kakek terlihat bahagia sekali. Dia berulang kali bilang terima kasih sampai saya merasa tidak enak. Ibu saya juga bingung buat apa saya beli ikan karena dia yakin ikan-ikan ini pasti bakalan jadi almarhum keesokan harinya.
Ya, kalau ditanya kenapa saya beli ikan, jujur karena saya cuma kasihan saja sama si kakek tua itu. Sesampainya di rumah, saya merebahkan diri di atas kasur. Mata saya menerawang ke sekitaran kamar. Saya menatap poster Star Trek dengan tatapan kosong sambil kembali bertanya ke diri saya sekali lagi, "Kapan ya terakhir kali saya merasa bahagia banget?"
Tiba-tiba saya teringat bagaimana bahagianya si Gatot gara-gara diajak jalan sama kecengannya. Saya juga jadi keingetan bagaimana bahagianya ibu saya pas tadi makan bersama, dan tidak lupa betapa bahagianya si kakek penjual ikan ketika saya membeli ikannya. Mungkin, di detik ini saya sedang merasa bahagia. (Tulisan ini dikirim oleh Stefanus Sani, Bandung)