Hari Raya Nyepi, Gerhana Matahari, dan Toleransi Beragama
- U-Report
Kesepakatan ini dinilai bahwa toleransi antar umat beragama di Pulau Bali terjalin dengan baik. Meski diperkenankan salat di masjid, namun ada rambu-rambu yang mesti diperhatikan, di antaranya: tidak menggunakan pengeras suara, melakukan salat di masjid terdekat, perjalanan ke masjid tidak menggunakan kendaraan bermotor, tidak bergerombolan dan mengobrol sepanjang jalan, tidak merokok sepanjang jalan, segera berkoordinasi dengan pecalang atau aparat setempat untuk bisa bepergian saat salat, shalat selesai paling lambat pukul 07:00 WITA. "Ini sudah kesepakatan bersama seluruh elemen terkait. Jangan sampai melanggar dan akhirnya menimbulkan polemik yang mengganggu keharmonisan di Bali," kata Sudiana.
Sebagai makhluk sosial manusia mutlak membutuhkan sesamanya dan lingkungan sekitar untuk melestarikan eksistensinya di dunia. Tidak ada satu pun manusia yang mampu bertahan hidup dengan tanpa memperoleh bantuan dari lingkungan dan sesamanya. Dalam konteks ini, manusia harus selalu menjaga hubungan antar sesama dengan sebaik-baiknya, tak terkecuali terhadap orang lain yang tidak seagama, atau yang lazim disebut dengan istilah toleransi beragama.
Teringat dengan almarhum ayahanda H.Abdurahman Wahid, beliau pernah mengatakan apabila seseorang berpikir positif tentang pluralisme, maka otomatis di dalamnya sudah ada unsur-unsur yang menunjukkan sikap toleran terhadap perbedaan. Ada dua hal penting yang harus diperhatikan berkenaan dengan sikap dialogis yang ditujukan pada dua cabang dalam kehidupan agama.
Pertama, Gus Dur sendiri berpendapat bahwa perbedaan agama-agama cenderung merupakan perbedaan yang berada dalam tataran kemanusiaan. Dia mengatakan bahwa sesungguhnya yang menjadi hakim untuk mengatakan seseorang masuk surga dan neraka adalah Tuhan sendiri. Baik agamawan, rohaniawan, kiai, mubaligh, atau wali sekalipun tidak bisa melakukan judgment atau penghakiman kepada orang selama di dunia. Karena Gus Dur sadar bahwa ada banyak hal tersembunyi dalam kehidupan seseorang selama hidup di dunia ini, dan itu hanya Tuhan yang tahu. Oleh sebab itu maka Tuhanlah yang akan menentukan apakah seseorang itu benar atau salah di hari akhir nanti.
Kedua, Gus Dur juga melangkah pada segi-segi yang lebih praktis. Bagi Gus Dur, praksis agama menjadi sesuatu yang sangat esensial di dalam hubungan antar agama yang didasari oleh toleransi dan langkah yang sangat konkrit. Sebagai bukti, Gus Dur melakukan kerjasama dengan siapa saja secara terbuka, baik dalam kelompok Kristen, Hindu, Budha, maupun kelompok Islam yang lain. Meski kemudian banyak berhubungan dengan kelompok-kelompok sekuler yang tidak terlalu banyak mempersoalkan doktrin-doktrin atau dogma-dogma agama adalah perkembangan lain.