Pengalaman Unik saat Interview Kerja

Ilustrasi interview kerja
Sumber :
  • U-Report

VIVA.co.id – Belum lama ini saya ada janji makan siang sama teman saya yang bekerja sebagai seorang HRD di sebuah perusahaan besar. Waktu saya mampir ke kantor dia, saya perhatiin sedang banyak orang yang menunggu panggilan buat interview kerja. Reaksinya beragam. Ada yang tenang, ada yang gelisah, ada juga yang sibuk main handphone.

img_title Lari 5K PORSENI Bakrie 2026 Berhasil Diikuti Ribuan Pelari, mulai dari Pekerja hingga Pecinta Olahraga

Entah kenapa, gara-gara lihat para job hunter ini, ingatan saya jadi kembali lagi ke kejadian tahun 2009 silam. Tidak semua orang tahu sih tentang cerita ini. Awalnya enggak ada angin, enggak ada badai, pada tanggal 13 Januari 2009 tiba-tiba saya disuruh ayah saya datang ke sebuah perusahaan di Jalan Surya Sumantri, Bandung. Ayah saya bilang ada temannya yang merekomendasikan saya untuk tes kerja di sana.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Serius, saya bingung banget. Bingung dalam artian kenapa saya yang direkomendasikan buat ikut tes kerja di sana. Memang saya pernah bertemu langsung dengan teman ayah saya itu, tapi itu pun tidak lama paling hanya sekitar 10-15 menit saja kita ngobrol-ngobrol. Nah, katanya dari ngobrol-ngobrol 15 menit itu teman ayah saya merasa cocok dengan saya dan menganggap saya layak buat kerja di perusahaan itu.

img_title Buat Gen Z, 6 Aturan Kantor Ini Sudah Nggak Masuk Akal

Begitu ayah menyuruh saya datang, saat itu juga langsung saya tolak. Bukannya sombong, tapi jujur saya baik-baik saja saat itu. Dalam artian, saya sudah punya job sendiri (meski belum terikat dan tetap). Pas saya tanya itu perusahaan apa, ayah saya juga enggak bisa kasih penjelasan yang memuaskan hati saya. Dia hanya bilang, "Kalau enggak salah sih perusahaan listrik."

Perusahaan listrik? Ini juga masih ditambahin kalimat "kalau enggak salah". Bagaimana coba kalau saya datang enggak tahunya itu perusahaan pupuk? Dan lagi, kalau memang ini beneran perusahaan listrik, jelas saya angkat tangan. Sepanjang hidup, saya sama sekali enggak punya pengalaman di dunia perlistrikan. Satu-satunya pekerjaan yang pernah saya lakukan (yang berhubungan dengan listrik) adalah setiap ayah saya menyedot air ledeng setiap malam, saya bertugas buat nyolokkin kabel. "De, colok kabel yang warna hitam!", "De, cabut kabel warna hitam ganti kabel warna putih!". Itu adalah “pengalaman” kerja saya yang berhubungan dengan listrik. Selebihnya saya angkat tangan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Bocornya Informasi soal AS Kekurangan Amunisi dalam Perang Iran Bikin 50 Staf Pentagon Diperiksa
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut