Pengalaman Unik saat Interview Kerja
- U-Report
Ternyata penolakkan saya berbuntut panjang. Ayah dan ibu saya saat itu terlihat kecewa dengan saya. Kita sempat adu argumen dengan tensi tinggi. Saya tetap teguh dengan keputusan kalau saya tidak mau datang buat wawancara kerja di tanggal 15 Januari 2009 tersebut. Sore harinya, kakak saya mengirim sms ke saya yang intinya meminta supaya saya tetap datang buat interview kerja. Dia bilang supaya saya mencoba dulu, soal diterima atau tidak itu urusan belakangan dan bisa diomongin lagi. Bahkan, kakak saya sampai menawarkan diri untuk ngebuatin saya CV (Curriculum Vitae) sebagai salah satu syarat buat melamar kerja.
Jujur, saya enggak pernah punya CV karena sama sekali memang tidak pernah melamar pekerjaan kemanapun. Karena bujukkan dari kakak, akhirnya saya luluh juga. Saya mengiyakan untuk datang ke kantor tersebut untuk melakukan interview kerja. Saya sama sekali tidak melakukan persiapan apapun untuk interview kerja pertama saya itu. Saya lebih berpikir bagaimana caranya saya “menamatkan” hari itu secepat mungkin. Saya sama sekali tidak peduli mau diterima atau tidak.
Akhirnya hari itu pun tiba. Mungkin karena terlalu antusias, ibu saya menyetrika banyak baju buat saya. Tidak ketinggalan saya juga sampai dibawakan bekal buat makan siang nanti. Sebelum berangkat, saya didoain supaya interview saya berjalan lancar. Saya diantar oleh ayah ke kantor tersebut. Jaraknya sih lumayan jauh dari rumah saya, sekitar 30 menit.
Sesampainya di sana, saya disambut oleh seorang resepsionis cantik. Saya utarakan tujuan saya ke sini dan oleh teman ayah yang merekemondasikan saya, saya disuruh mencari orang yang bernama Bapak Tony. Kebetulan saat saya datang, Bapak Tony tersebut sedang keluar jadi saya disuruh menunggu. Sambil menunggu, saya ajak ngobrol si mbak resepsionis cantik itu, dan dari dia, saya jadi tahu kalau ini adalah perusahaan baru dan benar ini adalah perusahaan listrik. Pantes saja pas saya cari info di internet tentang perusahaan ini, minim banget info yang saya dapat.
Setelah 30 menit menunggu akhirnya Bapak Tony datang. Begitu melihat saya, dia bilang, "Ini yang namanya Stefanus, ya?" sambil ngajak saya ke sebuah ruangan. Di ruangan itu saya disuruh duduk dan segera menjalani tes tertulis. Di saat begini kemampuan mengarang bebas saya benar-benar diperlukan. Seperti yang saya bilang tadi, saya sama sekali buta tentang perusahaan ini. Yang saya tahu, ini cuma perusahaan listrik bahkan namanya saja saya enggak hafal-hafal.