Keseriusanku untuk Meraih Kesuksesan sebagai Penulis

Aku ingin menjadi seorang penulis.
Sumber :
  • U-Report

VIVA.co.id – Ibuku bilang, “Kau tuh coba dewasa sedikit, jangan kayak anak-anak terus.” Ayahku bilang, “Kau kan udah disuruh pilih mau apa kau dulu.” Oomku juga bilang, “Kau kalau dikasih tahu tuh usah mengeras, ikuti saja apa yang sudah kau pilih.” Sebenarnya masih banyak pertanyaan pernyataan yang keluar dari mulut-mulut keluarga dan orangtuaku yang tidak enak didengar di telingaku.

Restu Ibu dan Nenek dalam Jalanku Meraih Sukses

Beraneka kritikan dan saran, tapi lebih banyak kritikan sih. Kebanyakan pedas dan jarang sekali yang manis. Itu yang membuatku selalu menulis sebuah cerita tentang keburukan mereka yang mereka lampiaskan padaku. Entah kenapa aku malah senang, karena aku merasa itu adalah peluang di mana aku akan bisa mendapat dukungan untuk benar-benar menjadi seorang penulis yang dikenal di Indonesia ini. Sekaligus aku ingin mengubah hidupku yang kelam, gelap, dan selalu terlihat pudar ini menjadi lebih terang, jelas dan, punya arah.

Hingga aku menemukan solusi dan cara yang tepat, walaupun cara tersebut belum pasti dan belum tentu bisa membuat aku mewujudkan mimpi, harapan, dan cita-citaku. Namun, aku selalu yakin, yakin, dan yakin akan usahaku ini akan berhasil. Walaupun aku selalu gagal, namun aku selalu berusaha. Aku berharap dalam waktu dekat aku akan benar-benar bisa mewujudkan mimpi ini, karena aku tidak mau merepotkan mereka, mendapatkan kritikan yang pedas dari mereka.

Menjadi Penulis adalah Cita-citaku sejak Dulu

Kesepian karena tidak mempunyai teman yang benar-benar ingin berteman denganku. Mengejar dan meraih apa yang aku inginkan, mewujudkan mimpi ini, membahagiakan orangtua dan keluarga, hingga aku bisa menunjukkan pada mereka kalau aku ini sudah dewasa sejak aku memasuki usia 10 tahun.

Ingin rasanya aku segera pergi dari rumah itu (rumah kakek), lalu menjauh dari segala kritikan pedas mereka. Karena cukup rasanya selama ini aku mendapat kritikan pedas dari mereka. Sungguh aku benar-benar ingin sukses lalu membuat mereka bisa menarik kritik-kritik pedas mereka yang telah mereka lontarkan padaku. Kalau kemarin-kemarin mereka mengkritikku, lalu suatu saat aku ingin mereka bangga dan mengakui keberadaan, kehebatan, kejeniusan, kesungguhan, keberhasilan, kesuksesan, perjuangan, dan keinginan yang telah aku raih ini.

Ayah, Aku Mau Jadi Penulis.

Tidak pernah terpikirkan olehku untuk melupakan mereka yang telah mengkritikku, malah aku berterima kasih kepada mereka. Kalau bukan karena mereka, aku tidak akan menjadi seseorang yang sudah menjadi dewasa sejak umur 10 tahun. Berkat mereka juga aku menjadi orang yang bisa benar-benar berpikir untuk meraih kesuksesan dengan cara yang bodoh.

Membuka aib dan membuat cerita yang hanyalah terdengar fiktif seperti sinetron-sinetron, film-film, dan reality show yang ditayangkan di televisi-televisi Indonesia. Kalau bukan karena itu, aku tidak mungkin bisa dipercaya untuk mengisi laman kronologi suatu forum yang sudah terkenal di Indonesia ini. Namun, sepertinya sulit bagiku untuk meraih kesuksesan nantinya, karena hanya mereka yang beruntung saja yang bisa meraih kesuksesan.

Andaikan saja aku mempunyai wajah yang tampan, keren, dan ganteng seperti Adipati Dolken, Bayu Skak, Raditya Dika, Tora Sudiro, Judika dan lain-lainnya, mungkin aku bisa saja meraih kesuksesan sebagai seorang model, penyanyi, ataupun artis. Tapi karena aku ini jelek, biasa-biasa saja, sedang-sedang saja, namun aku memiliki banyak ide untuk menulis yang bisa dicurahkan lewat buku, artikel, dan media sosial, rasanya itu sudah cukup. Karena tidak banyak mereka yang mau berjuang dengan cara yang belum memastikan mereka akan meraih kesuksesan. (Cerita ini dikirim oleh Ridho Adha Arie)

Ilustrasi penulis.

Perjuanganku untuk Jadi Seorang Penulis Tidak Akan Berhenti

Penerbit menolak naskah yang sudah kutulis dengan sepenuh hati.

img_title
VIVA.co.id
8 Juni 2017