Restu Ibu dan Nenek dalam Jalanku Meraih Sukses
VIVA.co.id – Sebagai seorang anak, sudah menjadi tugasku untuk membahagiakan ibuku. Ibu adalah segalanya bagiku. Selama ini aku sudah lupa untuk mengabdikan diriku padanya, karena aku selalu disibukkan dengan obsesiku untuk menjadi seorang penulis. Padahal untuk menjadi seorang penulis, aku juga membutuhkan restu darinya. Karena hanya ibuku satu-satunya orang yang masih bisa kuharapkan untuk mendukungku menjadi seorang penulis, sejak nenek meninggal beberapa tahun yang lalu.
Beberapa hari ini aku selalu berada di rumah kakekku. Ketika berada di sana, aku selalu teringat akan sosok nenek yang sudah lama meninggalkanku. Ya, sudah hampir tiga tahun lamanya nenek pergi, dan sudah tidak ada orang yang mau mendukungku lagi atas apa yang aku inginkan.
Ayahku selalu menginginkan aku untuk menjadi seorang arsitektur, padahal yang kuinginkan menjadi seorang penulis. Hingga akhirnya pernah suatu hari aku menulis sebuah artikel yang berjudul, ‘Ayah, Aku Mau Jadi Penulis’ di salah satu situs berita online ternama di Indonesia. Walaupun kenyataannya, ayahku sama sekali tidak pernah membacanya karena memang ia tidak mengerti tentang internet.
Usahaku untuk memberi tahu ayah akan keinginanku memanglah tidak berhasil. Tapi usahaku untuk bercerita melalui tulisan cukup berhasil. Semua itu berkat tekadku yang ingin memperlihatkan pada nenek dan ibu kalau aku bisa bercerita melalui tulisan. Surga memang tidak berada di kaki nenek, tapi nenekku akan merasa senang dan bangga karena cucu kesayangannya telah berhasil bercerita dan telah memotivasi banyak orang.
Semua usaha kulakukan karena nenek, juga karena ibuku. Ibuku adalah sosok di balik kesuksesanku dalam bercerita. Walaupun aku belum menjadi penulis yang dikenal banyak orang, tapi aku sudah merasa yakin dengan apa yang aku bisa. Aku yakin aku pasti bisa membuat ibu bangga padaku suatu hari nanti.
Saat ini aku sudah kembali menulis cerita. Sudah dua cerita yang aku tulis di tahun ini, namun baru satu cerita yang aku kirim ke penerbit. Alasannya pun cukup simpel, karena saat ini aku sedang dilanda krisis keuangan. Keinginanku untuk membahagiakan ibuku sedikit terhambat dan tertunda untuk sementara. Namun aku yakin semuanya pasti indah tepat pada waktunya.