Restu Ibu dan Nenek dalam Jalanku Meraih Sukses
Sampai saat ini ayahku masih belum menyadari akan keinginanku untuk menjadi seorang penulis. Padahal aku sudah memberi tahunya secara langsung tentang apa yang selama ini telah aku lakukan. Tapi entah kenapa ia tidak pernah sadar dan mau mendukungku. Aku tahu apa yang diinginkannya. Tapi tidak selamanya apa yang diinginkannya itu merupakan yang terbaik untukku. Yang aku inginkan adalah menjadi penulis, bukan arsitek.
Ibuku sudah sadar dan mau mendukungku untuk menjadi seorang penulis, walaupun belum sepenuhnya ia mendukungku. Ibuku masih belum percaya apa yang nantinya akan aku dapatkan. Tapi walaupun begitu, aku terus meyakinkannya kalau menjadi penulis tidak seperti apa yang ia pikirkan.
Baik ibu ataupun nenekku, hanya mereka berdua yang mau mendukungku. Sejak dulu nenekku selalu mendukung apa yang aku inginkan. Bukan dimanjakan, tapi didukung. Mungkin sekarang nenek sudah tidak ada lagi di dunia ini, tapi aku yakin nenek pasti akan mendukungku karena aku adalah cucu kesayangan dan perdananya.
Aku bersyukur karena pelan-pelan ibuku mau mendukungku dan memberi restu padaku. Restu ibuku selalu menyertai jalan kesuksesanku. Sedangkan restu ayah, pasti akan aku dapatkan ketika aku sudah berhasil suatu saat nanti. (Tulisan ini dikirim oleh Ridho Adha Arie, Pekanbaru)