Malam, Pagi, dan Senja
- U-Report
Wanita mana yang mau melihat lelakinya terbaring di samping wanita lain? Tak ada. Tidak juga aku. Tapi lihat! Aku berbaring dengan lelaki yang selalu menyebut nama wanitanya dan bukan namaku. Ingin kusudahi rasa ini, tetapi entah apa yang membuatku selalu kembali memilih untuk berbaring di sampingnya dari pada pergi.
Oh, pagi, cukuplah kau bawakan aku semangkuk penyesalan setelah malam berlalu. Jangan kau pusingkan aku dengan rasa bersalah pada wanita baik yang menunggu lelaki, yang tak mampu kusebut lelakiku ini kembali setelah berbaring bersamaku. Oh pagi, bisakah kau ajak senja untuk menghampiriku pagi ini dan bawakan aku kekuatan untuk berlari dari lelaki tegap yang dengan mudahnya menjatuhkanku di sampingnya. Membuatku tak bergerak dan hanya menunggu ia untuk kembali kepada wanitanya.
Aku ingin senja membantuku berlari dari semua rasa yang tak mampu kuungkap. Membantuku agar mampu menolak kehadiran lelaki yang tak pernah mampu kusentuh. Aku menyerah pada malam. Tak mampu kuhilangkan hadirnya di sampingku. Malam terlalu kuat membungkamku untuk tetap diam ketika ia terbaring di sampingku. Dan pagi terlalu dingin dengan semangkuk penyesalannya.
Harapanku hanya senja. Kuharap senja lebih mengerti dan bersahabat padaku. Kelak, entah kapan, ia pasti melupakanku dan menganggapku tak pernah benar-benar hadir di malam harinya. Tapi pasti aku akan selalu mengingat bersama malam, betapa tenangnya ketika lelaki tegap ada di sampingku tanpa bersuara. Hanya degupan jantungku dan suara nafasnya yang mengisi ruang kosong malam itu. Dan pasti aku akan menangis bersama pagi, menyantap dengan tenang semangkuk penyesalan dan secangkir rindu yang menyesakkan.
Mungkin terdengar menyedihkan. Tapi aku tahu masa itu akan ada. Dan aku akan menikmatinya dengan air mata. Karena aku yang tetap membiarkan malam hadir bersamanya dan terbaring di sampingku hingga malam ini. (Tulisan ini dikirim oleh Poetry Galuh, Jakarta)