I'm Not Gay
- REUTERS/Cathal McNaughton
Aku tidak menyangka sesulit ini menjadi anak PAC. Kami harus mencari dana sendiri untuk membuat perfilman besar. Jelas, aku tidak akan meminta pada mama. Tetapi aku juga tidak tahu harus mendapatkan dana dari mana. Di sisi lain, aku tidak melihat kesulitan pada teman-temanku saat mencari dana. Aku heran dan tidak mengerti. Apa mereka meminta kepada orang tua mereka? Aku sendiri pun tidak tahu.
Rasa penasaran terus bermunculan. Dan akhirnya aku berniat untuk bertanya pada temanku. Aku hampiri salah satu temanku. Ia bernama Max. Pria ini cukup tinggi, putih dan pintar. Mungkin saja dia bisa menjelaskan rasa penasaranku ini. Aku memanggil, Max dan ia pun menoleh.
“Loe udah dapet dana buat bikin film?” tanyaku penasaran. “Udah lah. Gampang itu mah,” jawabnya sembari membaca buku. “Hah? Gampang? Gimana caranya?” Max meletakkan bukunya, “Loe cari sponsorshiplah!” ucapnya. “Tapi kan nyari sponsor enggak gampang, Max,” elakku. “Gampang kok. Gue punya teman nih. Perusahaan teman gue itu gede banget dan ada di mana-mana. Kalau cuma kasih dana buat bikin film mah bisa dijabanin sama dia. Besok, kita ketemuan aja di caffe seberang kampus. Nanti gue anterin ke perusahaan itu.”
Aku sangat berterimakasih sekali pada Max. Kami bertemu di caffe seberang, lalu kami langsung berangkat menuju perusahaan itu. Tak lama kemudian, kami sampai di sana. Kami masuk dan bertemu dengan pemilik perusahaan ini. Aku kaget ketika melihat si pemilik perusahaan. Max bilang pemilik perusahaan ini adalah temannya. Teman? Sepertinya tidak pantas untuk dipanggil teman. Lebih pantas lagi kalau dipanggil om. Ya, om. Wajahnya seperti orang berumur 40 tahunan, badannya lumayan besar, dan berkumis tebal.
“Om, teman aku mau minta sponsor. Boleh kan?” tanya Max. “Hmmm, boleh saja. Tapi…..” om itu memanjangkan kata “tapi”. Max tertawa kecil, “Masih saja si Om.” ucapnya. “Siapa nama kamu?” tanya om padaku. “Oh iya, nama saya Jaxon. Di sini saya membawa proposal untuk meminta sponsor.” Aku menyodorkan proposal bermap cokelat. “Tidak usah pakai proposal.” Ia mengembalikan map itu tanpa melihat sedikit pun proposalku.