Tidak Ada Kata Berhenti untuk Belajar
- VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian
Jawabannya ternyata Danilhaq (nama keponakan saya) terpilih menjadi salah satu pengisi acara Haflah Akhirussanah (acara penutupan tahun ajaran, biasanya diadakan pada bulan Syaban) untuk menyanyikan lagu Kun Anta tadi bersama beberapa teman lainnya yang juga terpilih. Maka oleh ustaz-nya dia disuruh menghafalkan lagu tadi.
Dulu di Madrasah Diniyyah saya tidak diajarkan untuk menyanyi lagu Ana Winta atau Magadir, misalnya. Apalagi menari. Di Madrasah Diniyyah saya hanya belajar langkah-langkah mengambil air wudhu, bacaan doa-doa keseharian, bacaan adzan dan iqamat, dan belajar membaca Alquran. Di tingkat setelah melewati pengajaran itu, saya kemudian diajarkan ilmu-ilmu dasar gramatikal bahasa Arab yaitu Nahw-Sharf. Setahu saya, kedua pelajaran ini selalu bergandengan.
Usia akhir MI (kelas 6 MI) sampai masuk MTsS (Madrasah Tsanawiyyah Salafiyyah) di Madrasah Diniyah saya kemudian mulai belajar mengaji kitab kuning. Partai Keadilan Sejahtera bahkan pernah mengadakan semacam lomba membaca kitab kuning, meski kabarnya dulu beberapa partisipannya sempat merendahkan isi kitab kuning tersebut.
Kitab kuning yang saya pelajari dulu adalah kitab fikih Safinatunnaja dan Fathul Qarib, kitab tauhid Tijanuddirori dan Fathul Majid, kitab Akhlak yang saya lupa namanya, serta tentu juga belajar ilmu Gharib yaitu tentang bacaan-bacaan tak umum yang ada dalam Alquran, seperti "Saktah" dan lain-lain. Pendidikan dasar keagamaan tersebut tadi sepertinya menjadi sebuah pondasi yang cukup bagi saya untuk masuk ke sebuah pesantren. Kemudian saya pun masuk ke pesantren usai lulus MTsS.
Di pesantren, saya jadi merasa sudah tidak asing dengan istilah dalam Nahw-Sharf semacam Mubtada-Khobar atau Ism Ghairu Munsharif, dan sebagainya. Dan di pesantren itulah ilmu-ilmu penting lain juga saya peroleh, terutama ilmu sosial. Sosial dalam arti yang paling sederhana, bukan yang berkonotasi berat seperti yang banyak diungkapkan secara panjang lebar dalam tulisan-tulisan kaum akademisi di situs islambergerak atau indoprogress misalnya.
Ilmu sosial yang saya pelajari sekadar mengenai keguyuban, kerukunan, kepedulian, meminimalisir kontravensi dalam kehidupan sehari-hari para santri, serta hal-hal lain yang tak jauh dari itu. Ilmu sosial yang saya pelajari pun kebanyakan bukan dalam bentuk membaca buku-buku tebal karya ilmuwan sosialis atau mengadakan diskusi berlarut-larut membahas kelas sosial, melainkan lagi-lagi sekadar melihat dan mendengar.