Tidak Ada Kata Berhenti untuk Belajar

Ilustrasi/Belajar di pesantren.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian

Jika melihat ada kawan sepesantren sedang sakit, secara sadar saya dan santri yang lain berbagi tugas. Ada yang memintakan bantuan doa (biasanya dilakukan saat usai salat berjamaah), ada yang mengantarnya berobat, serta ada yang membantunya menyuapkan makan. Atau ketika mendengar ada tetangga lingkungan pesantren meninggal, maka santri-santri akan bertakziah. Kalian yang pernah hidup di pesantren tentu pernah mengalami hal-hal itu, atau setidaknya melihat teman sesama santri kalian melakukannya. Kecuali kalian tidak belajar ilmu sosial sederhana itu di sana.

img_title Tanamkan Cinta Alquran, Polisi Ini Ajari Anak-anak Mengaji

Kedewasaan saya rasanya benar-benar “digodok” di pesantren. saya harus bersyukur memiliki orang tua yang telah memondokkan saya di pesantren itu. Di sana saya mengenal, selain ilmu-ilmu keagamaan dari kitab-kitab kuning yang semakin variatif serta ilmu sosial yang ala kadarnya itu. Saya juga mengenal teman-teman hebat. Banyak sekali teman saya yang saya kagumi kecerdasannya di sana. Bahkan saya pernah mengira bahwa si A, salah satu teman saya misalnya, kelak akan menjadi seorang ilmuwan kitab kuning yang bermanfaat bagi banyak orang terutama lingkungan tempat ia tinggal nantinya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kini, lima tahun sudah berlalu sejak saya boyong (lulus sekolah dan keluar dari pesantren untuk kembali ke rumah, ke kampung halaman). Lima tahun bagi saya untuk mencoba mengimplementasikan apa saja hal-hal baik yang saya peroleh dari pesantren, dari kecil. Ilmu-ilmu yang saya pelajari selama ini, yang setelah saya sadari ternyata hanya seperempat biji beras di antara ratusan ribu ton beras impor bangsa ini.

img_title Musyawarah Besar Himpunan Mahasiswa Sastra Inggris UMI

Belumlah cukup saya memberi manfaat bagi orang lain. Namun, saya bukan tak mau terus belajar dan mencoba menjadi lebih baik. Saya masih punya kesadaran bahwa saya harus lebih banyak belajar dan semakin banyak belajar. Setidaknya saya baru saja membaca halaman-halaman awal buku biografi Ibnu Khaldun karya Bensalim Himmish. Di sana dituliskan bahwa Ibnu Khaldun pernah berkata, "Hati seorang mukmin selalu memiliki ruang untuk menampung keluh-kesah orang lain." Sesaat sebelum hp saya berdering dan saya baca pesan singkat dari teman saya yang berbunyi; "Ke sini bisa? aku mau curhat." Saya balas pesan singkat itu, "Bisa. Langsung otw." Lalu berangkatlah saya ke rumah kawan saya itu dengan berkendara sepeda motor.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut