Anakku, Kemana Engkau Harus Melanjutkan Sekolah?
- U-Report
Ya sudahlah, kalau masalah amat-mengamati persoalan lingkungan, kita dan bangsa ini saya yakin sudah pada pintar. Ya, setiap hari sering mendengar, melihat, membaca pengamat-pengamat berkomentar yang kadang menbuat kita juga berkomentar.
Kembali ke soal ke mana anak saya harus melanjutkan sekolah. Sudah sejak anak saya naik ke kelas VI tingkat dasar, saya dan bundanya sering diskusi ke mana nanti anak sulung kami melanjutkan sekolah tingkat pertamanya. Hasil diskusi alot, akhirnya kami putuskan untuk memasukkan anak kami ke sekolah yang berasrama.
Dengan pelan-pelan saat kami berkumpul, rencana itu saya sisipkan dalam obrolan-obrolan. Walau tanpa penolakan, tapi dari ekspresi wajah tampak keengganan anak saya atas rencana tersebut. Kesan ke sekolah berasrama seolah dibuang jelas sekali dari wajah anak saya. Puncaknya saat pendaftaran sekolah lanjutan mulai dibuka. Mulai ada tekanan dalam perasaan saya bagaimana membuat positif rencana ini. Apakah harus dengan paksaan atau bagaimana?
Anak saya memang sampai saat ini belum menolak, bahkan sudah ikut tes dan dinyatakan lulus di salah satu sekolah berasrama. Hanya ucapan, “Yah, nanti boleh bawa HP ya, boleh bawa laptop ya?” yang selalu terucap. Padahal barang-barang itu yang sementara waktu dilarang untuk dibawa dulu.
Mungkin pembaca ada yang memiliki kasus yang sama dengan saya, dilema memilih lembaga pendidikan bagi anak-anak kita. Tapi saya pernah membaca ulasan seorang psikolog, bahwa di usia anak saya saat ini posisi kita ibarat sipir pada narapidana, yang mesti mengawasi dan memastikan untuk perbaikan-perbaikan perilakunya ke depan. Dengan sedikit disiplin lebih agar terbentuk jati diri dan karakter yang terbaik.
Di akhir tulisan, saya tidak bermaksud membandingkan mana yang lebih baik antara lembaga pendidikan yang berasrama atau regular (non asrama). Hanya bagi saya yang agak sibuk kerja, sangat khawatir dengan anak saya yang memiliki banyak waktu luang sepulang sekolah. Khawatir anak saya larut dalam pragmatisme lingkungan yang hedonis yang melupakan adab kepatutan, dan saya takut kecolongan oleh itu. Mungkin sekolah yang berasrama menjadi pilihan yang terbaik. (Tulisan ini dikirim oleh Agussukendar)