Praktik di RS Tipe A bagi Siswa Keperawatan Perlu Evaluasi

Ilustrasi perawat
Sumber :
  • Antara

Kita banyak berbicara tentang standar pendidikan, praktik, dan manajemen. Kebutuhan di lapangan yang realistis sayangnya seringkali kita abaikan hanya karena atas nama standar serta kertas. Mahasiswa nyatanya hanya jadi “korban”, termasuk orang tua, masyarakat, serta reputasi profesi.

img_title Pergilah Dinda Cintaku

Bagaimana seorang Clinical Instructor (CI) akan mampu memberikan bimbingan efektif kepada mahasiswa praktik yang jumlahnya melebihi kapasitas dia sendiri, yang bahkan melebihi ukuran kelas? Saya setuju, ada CI-CI yang mampu memberikan bimbingan secara efektif, atas nama akreditasi dan sertifikasi. Tetapi berapa jumlah di lapangan yang peduli kecuali hanya sebatas tanda-tangan di atas selebaran kertas ini?

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tidak heran, di atas kertas, lulusan kita sangat rapi kompetensinya. Namun, sesudah lulus, ditanya apa saja yang diperoleh selama kerja di lapangan dengan menyebutkan 5 kasus yang paling banyak ditemui, sebagian besar mereka hanya diam. Apalagi tentang keterampilan mereka.

img_title Tanggung Jawab dan Rekonsiliasi Masyarakat Lumban Dolok

Kemarin saya bertemu dengan 22 orang mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sulawesi. Saat ditanya apa saja roles & responsibilities mereka selama mengikuti program profesi, hanya ada 2 (5 persen) orang yang menjawab. Itupun tidak terstruktur. Ada saatnya kurikulum tentang praktik mahasiswa di RS direview.

Di luar negeri, Qatar sebagai contoh, mahasiswa keperawatan hanya praktik di laboratorium. Sesudah lulus, mereka magang, dibayar, dengan bimbingan senior selama minimal 1 tahun. Sesudah 2 tahun magang (internship), kemudian dilepas. Selama internship ini mereka sudah punya STR. Zaman sekarang sangat beda dengan 20-30 tahun silam tentang dunia praktik profesi. Sudah tidak relevan lagi seorang mahasiswa kebidanan misalnya, dituntut untuk mampu menolong persalinan 10 kali. Sementara di lapangan, bidan saja harus merujuk pertolongan persalinan ke Puskesmas terdekat.

img_title Jokowi Diminta Lerai Konflik Ketua Pramuka dengan Menpora

Negara kecil kemarin sore seperti Qatar, bisa melakukan hal serupa. Pasien dilindungi, mahasiswa diperhatikan kompetensinya, profesi dijaga reputasinya, keuangan masyarakat dihemat agar tidak sia-sia pengeluarannya. Mari kita buka mata, telinga, hati dan pikiran dengan jernih. Berikan penyusunan kurikulum kepada ahlinya, bukan hanya kepada mereka yang pandai di akademik, penelitian, tapi tidak banyak tahu realitas lapangan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut