Kaum Nazar Bhe-kun dan Perayaan Kuda Sam Poo di Semarang
Rabu, 3 Agustus 2016 - 12:12 WIB
Sumber :
VIVA.co.id
- Saya, 66 tahun, lahir dan besar di Semarang. Sejak usia enam tahun hingga kini, tiap tahun suka nonton arak-arakan Jaran Sampo (Kuda Sampo). Begitu masyarakat pribumi menyebut tradisi ritual tahunan warga Tionghoa Semarang itu, diadakan tiap bulan Juli atau Agustus. Warga Tionghoa menamai tradisi itu, Perayaan Sam Poo. Disebut Jaran atau Kuda Sampo, karena di pawai itu selalu ada Kuda putih, dikawal puluhan hingga ratusan lelaki dan perempuan Tionghoa. Mereka berkostum khas Cina warna hitam-merah. Wajah mereka dicoreng-moreng dengan warna hitam, putih dan merah pula.
Mereka yang berkostum atau bermuka aneh menyeramkan itu, disebut kaum Bhe-kun. Bhe berarti Kuda dan Kun adalah pasukan atau pasukan berkuda. Mereka melaksanakan kaul atau nadzar dengan mengawal Kuda Sampo; Setelah cita-cita mereka terkabul melalui doa di Kelenteng Sam Poo Khong (Sam Poo Thay Jien), Semarang. Kaum Bhe-kun mengawal Kuda Sampo diarak-arakan yang berjalan bolak-balik dari Kelenteng Thay Kak Sie di Gang Lombok Semarang-Tengah ke Kelenteng Sam Poo Khong di Simongan, Semarang-Barat, sejauh 15 Km.
Semasa saya kecil, Kuda Sampo dibiarkan bebas. (Tak diberi tali kendali, dituntun satu-dua Bhe-kun seperti kini). Karena dibiarkan bebas berjalan atau berlari, tak jarang kuda lepas dari formasi pawai. Lalu dikejar para Bhe-kun dan susah-payah digiring kembali dibarisan arak-arakan. Kuda Sampo lepas liar ke sana ke mari, dikejar pontang-panting para Bhe-kun tersebut, merupakan momen paling seru dan menarik. Sekaligus meningkatkan adrenalin para Bhe-kun dan ribuan penonton, memadati kanan-kiri jalan sepanjang rute yang dilalui arak-arakan.
Tahun ini Perayaan Sam Poo dilaksanakan 31 Juli 2016. Para Bhe-kun, datang dari berbagai pelosok tanah air. Konon malah ada yang dari Malaysia dan Singapura. Di antara para Bhe-kun terdapat sosok Ir Tutuk Kurniawan, pengusaha Taksi Atlas Semarang dan pengurus Kelenteng Sam Poo Khong. Tutuk mengaku, sedang melampiaskan kaul dengan menjadi Bhe-kun. Apa kaulnya? Tak dijawab. Mungkin setelah dia lepas dari status tersangka korupsi dana hibah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebesar Rp14,5 milar, terkait rehabilitasi atau pembangunan Kelenteng Sam Poo Khong.
Baca Juga
Mereka yang berkostum atau bermuka aneh menyeramkan itu, disebut kaum Bhe-kun. Bhe berarti Kuda dan Kun adalah pasukan atau pasukan berkuda. Mereka melaksanakan kaul atau nadzar dengan mengawal Kuda Sampo; Setelah cita-cita mereka terkabul melalui doa di Kelenteng Sam Poo Khong (Sam Poo Thay Jien), Semarang. Kaum Bhe-kun mengawal Kuda Sampo diarak-arakan yang berjalan bolak-balik dari Kelenteng Thay Kak Sie di Gang Lombok Semarang-Tengah ke Kelenteng Sam Poo Khong di Simongan, Semarang-Barat, sejauh 15 Km.
Semasa saya kecil, Kuda Sampo dibiarkan bebas. (Tak diberi tali kendali, dituntun satu-dua Bhe-kun seperti kini). Karena dibiarkan bebas berjalan atau berlari, tak jarang kuda lepas dari formasi pawai. Lalu dikejar para Bhe-kun dan susah-payah digiring kembali dibarisan arak-arakan. Kuda Sampo lepas liar ke sana ke mari, dikejar pontang-panting para Bhe-kun tersebut, merupakan momen paling seru dan menarik. Sekaligus meningkatkan adrenalin para Bhe-kun dan ribuan penonton, memadati kanan-kiri jalan sepanjang rute yang dilalui arak-arakan.
Tahun ini Perayaan Sam Poo dilaksanakan 31 Juli 2016. Para Bhe-kun, datang dari berbagai pelosok tanah air. Konon malah ada yang dari Malaysia dan Singapura. Di antara para Bhe-kun terdapat sosok Ir Tutuk Kurniawan, pengusaha Taksi Atlas Semarang dan pengurus Kelenteng Sam Poo Khong. Tutuk mengaku, sedang melampiaskan kaul dengan menjadi Bhe-kun. Apa kaulnya? Tak dijawab. Mungkin setelah dia lepas dari status tersangka korupsi dana hibah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebesar Rp14,5 milar, terkait rehabilitasi atau pembangunan Kelenteng Sam Poo Khong.
Halaman Selanjutnya