Sebuah Kritik dalam Doa
- U-Report
Menurut saya yang hanya intelektual kampung, tak ada yang salah dari doa itu. Sebab ini adalah realita maka ada yang merasa ‘sesuatu’ dengan doa tersebut. Jika tidak, maka komentator-komentator itu akan tenang saja. Akan tetapi, menjadi kuli di negeri sendiri adalah realita yang tak bisa dipungkiri. Realitasnya, sumber daya alam kita dikelola oleh asing sementara kita hanya sebatas menjadi kuli bagi mereka. Padahal mereka lupa jika ada yang namanya konsep “tuan tanah” yang berarti si pemilik tanah.
Sepenggal doa di gedung orang-orang yang katanya terhormat itu menunjukkan bahwa kita mengakui apa kesalahan kita. Dan itulah salah satu bagian dari doa. Sebab doa adalah merendahkan diri, bukan membanggakan diri dengan janji manis. Jika doa yang dipanjatkan Syafi’i itu adalah doa titipan atau doa politik, maka kita tak perlu kebablasan membahasnya.
Bahkan di beberapa media nasional berhembus kabar jika Syafi’i banyak mendapat kritik dari kalangan istana atau pihak Pemerintah terkait doanya. Sampai-sampai ada sesama rekan Syafi’i yang menganggap itu doa kecolongan. Penulis yakin jika doa itu adalah bagian dari kritik, berarti Syafi’i tak akan mungkin kebablasan sebab dialah yang mengkritik.
Herannya adalah, kenapa pihak Pemerintah seakan-akan kebakaran jenggot terutama partai-partai yang berkoalisi dengan Pemerintah? Penulis menyadari jika doa itu adalah menunjukkan betapa rendahnya hamba di hadapan Tuhan-nya, dengan mengakui kelemahan dan kesalahan.
Tetapi penulis menyadarai pula jika di negeri ini, doa saja dipolitisasi. Sampai sebagian lainnya mungkin ada yang ingin berdoa penuh pencitraan dengan menegakkan kepala di hadapan presiden, lalu mengangkat kedua tangan sembari berdoa dengan bahasa-bahasa pencitraan. Dan di akhir tulisan ini, penulis juga tak lupa menutupnya dengan doa pula:
“Ya Rab, jauhkanlah negeri kami dari negeri yang Baldatun la'natun wa Robbun ghofur,negeri yang Engkau laknat Ya Rab. Berkahilah negeri kami Ya Rab, sehingga negeri kami menjadi negeri yang Baldatun Thayyibatun wa rabbun Ghafur. Bukalah hati pemimpin-pemimpin kami agar mereka peka dengan kepentingan rakyat, bukan kepentingan segelintir golongan atau orang-orang asing. Aamiin”.