Sembahyang Rebutan di Kelenteng Welahan Jepara
- Heru Christiyono Amari
Acara terakhir bisa dilaksanakan jika diizinkan Thian dengan cara melempar poa-pwee. Saat Sie Ping Djan melempar poa-pwee didepan hio-lo disaksikan Sugandhi, 75 tahun, Ketua Yayasan Kelenteng, tiba-tiba seorang biokhong lain cepat mengambilnya. Tindakan ceroboh itu membuat Sie Ping Djan dan Sugandhi marah. Sedangkan saya melihat, dua keping poa-pwee itu jatuh dalam posisi tengkurap. Artinya, Thian tak mengizinkan dan acara harus ditunda esok hari.
Guna memperbaiki kecerobohan itu, Sie Ping Djan disetujui Sugandhi, mohon ijin Thian mengulang melempar poa-pwee. Untung ijin yang diminta dikabulkan, ditandai jatuhnya dua keping poa-pwee di posisi satu buka satunya lagi tutup. Sesudah jeda setengah jam, dilakukan pelemparan ulang poa-pwe. Setelah diamati bersama, dua keping poa-pwee itu jatuh dalam keadaan satu buka dan satu lagi tutup. Artinya, acara terakhir diijinkan dilaksanakan.
Acara puncak, ditandai bunyi gembreng dipukul biokhong Hidayat. Gerbang kelenteng pun dibuka. Ribuan orang sejak pagi menanti di luar gerbang menyerbu, naik ke altar tempat berbagai sesajian disediakan. Saling berebut mendapatkan sebanyak mungkin sesajian. Benda-benda sesajian itu diantaranya berupa jaket, power bank Hp, kain batik, celana jean, ang-pao, baju, sarung, sepatu, selop, sandal, handuk, kopiah dan lain-lain termasuk sembako. Wakil Bupati Jepara, H Subroto yang ikut menyaksikan berkali-kali berkata, "Ini budaya yang unik."
Saya tak habis pikir, dua kali menyaksikan Sembahyang Rebutan yang ditujukan guna menjamu para arwah yang menderita di alam halus sana, selalu terjadi hal-hal mencemaskan. Kata Suwoto, 46 tahun, Sekretaris Yayasan Kelenteng Welahan, "Itu pertanda manusia mahluk tak sempurna. Selalu menemui kendala dalam hidupnya. Namun, atas seizin Thian, segala aral bisa diatasi." Tahun depan ritual ini akan diulang lagi. Semoga lebih meriah dari tahun ini yang agak sepi. (Tulisan ini dikirim oleh Heru Christiyono Amari, Pati, Jawa Tengah).